Kamis, 08 Januari 2015

#Jodishan: Tuhan Tidak Memandang Kejomloanmu



Sumber gambar: www.nyunyu.com


Alkisah, seorang lelaki meninggal dalam keadaan masih membujang. Keluarganya begitu sangat berduka karena ditinggal olehnya karena lelaki ini merupakan sosok yang baik hati dan selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Ketika pemakamannya, begitu banyak orang yang ikut melayat dan menyaksikan ia dikuburkan ke dalam tanah. Mereka berdoa agar sang lelaki itu mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhannya.

Di alam yang berbeda, sang lelaki mendengar dari kuburannya para pelayat sudah mulai meninggalkan makam tempat liang lahatnya berada. Langkah-langkah para pelayat itu terus ia dengar dengan saksama hingga langkah orang terakhir yang meninggalkannya. Tepat pada langkah ketujuh orang terakhir tersebut, tiba-tiba datang dua sosok makhluk yang menghampirinya. Ia tahu bahwa kedua makhluk itu adalah malaikat penjaga kubur yang bernama Mungkar dan Nakir. Setelah mereka mengucapkan salam dan lelaki tersebut menjawab salamnya, tibalah saatnya kedua malaikat itu bertanya kepada sang lelaki, “Apakah kamu masih jomlo?”.

***
Cerita di atas tentunya hanyalah fiktif belaka. Cerita tersebut adalah karangan penulis pribadi yang ingin menggambarkan bahwa rasanya tidak mungkin pertanyaan itu akan menjadi pertanyaan utama yang diutarakan malaikat ketika meminta pertanggungjawaban kita di alam kubur kelak. Sebagai muslim, kita pastinya sudah tahu bahwa saat itu kedua malaikat tersebut akan menanyakan tentang “Siapa Tuhanmu?” kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tauhid lainnya.

Kejomloan atau status masih melajang, bukanlah suatu hal yang menjadi komponen paling utama dalam masalah agama. Walaupun di lain sisi, terdapat pula berbagai firman Allah yang menginsyaratkan tentang pernikahan serta beberapa riwayat dari Rasulullah yang menekankan tentang pentingnya menikah. Bahkan, sering pula disebut kalau dengan menikah berarti seseorang menggenapkan separuh dari agamanya yang belum sempurna ketika sebelum ia menikah. “Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” (H.R. At-Thabrani)

Apakah hal itu benar? Yup, tentunya harus kita yakini bahwa itu adalah suatu kebenaran karena disampaikan oleh Rasulullah Saw. Di sisi lain, saya juga meyakini bahwa hal ini merupakan sekadar anjuran dari Rasulullah Saw tentang suatu kebaikan yang patut diutamakan namun bukanlah berarti kita menjadi buruk jika belum dapat atau mampu melaksanakannya.

Banyak hal lain dalam Islam yang juga menjadi keutamaan selain menikah. Menuntut ilmu misalnya. Terdapat beberapa ulama besar Islam yang meninggal tanpa sempat menikah sebelumnya. Sebut saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Nawai, dan Imam Thabari yang namanya sering menjadi rujukan umat Islam karena keluasan dan keutamaan ilmu yang dimilikinya. Konon, selama hidupnya para ulama ini tidak sempat menikah karena sibuk menuntut ilmu dan berdakwah.

Terbayangkah kalian, apabila di akhirat kelak, para ulama yang mulia ini ditanya tentang status “kejomloan” mereka kemudian hal itu menjadi pengurang dari kemuliaan mereka di mata Allah Swt? Wallahu alam. Allah Yang Maha Tahu akan hal ini.

Setidaknya, saya pribadi meyakini bahwa kemuliaan seseorang di mata Allah Swt bukanlah dipandang dari apakah ia sudah menikah atau masih jomlo. Namun, dari seberapa banyak amal kebaikan yang dilakukannya selama di dunia. Wallahu alam.

Yansa El-Qarni,
*Ingat, kadang menjadi jomlo adalah suatu pilihan hidup seseorang. Jomlo yang baik itu bukanlah mereka yang tidak ingin menikah, tapi ia meyakini Allah mempunyai rencana lain yang juga baik untuknya.

0 komentar:

Posting Komentar