Senin, 05 Januari 2015

Silaturahmi? Hmmm..., Penting Ga, Sih?

sumber gambar: google.com


Eh, Kak, benar kata Pak Ustaz ya kalau silaturahmi itu memperbanyak rezeki,” ucap adik kepada kakaknya setelah pulang bertamu dari rumah pamannya.

“Hahaha... Ya iyalah, Dek..., kalau kamu mah masih dapat THR dari paman. Kakak kan sudah tidak dikasih lagi karena katanya sudah gede,” ujar kakaknya sambil meringis.

***

Penggalan percakapan di atas bisa dikatakan salah satu efek dari berkahnya silaturahmi, lho. Sang adik mendapat uang THR itu karena dia sudah melakukan silturahmi, bukan? Kalau dia tidak singgah ke rumah pamannya, tentu uang THR itu tak mungkin datang sendiri menemuinya. Ya..., walaupun dalam kasus yang terjadi pada kakaknya berbeda ceritanya. :D

Sebelum kita membahas, “Apa seh pentingnya silaturahmi eeaaa?”, kita ungkap keberkahan di balik silaturahmi dulu, yuk.

Rasulullah Saw bersabda.

"Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim." (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Nah, dari hadis sahih ini setidaknya ada dua keberkahan yang akan diperoleh orang yang bersilturahmi. Pertama, ‘dilapangkan rezekinya’. Yup, contoh kejadian yang dialami sang adik adalah salah satu contohnya. Nyatanya, hubungan antara silaturahmi dengan rezeki itu bukan omong kosong lho, Sob!

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an oleh seorang sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter membuktikan hal ini. Penelitian tersebut mengungkapkan tentang cara atau bagaimana orang mendapatkan pekerjaan. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan berdasarkan koneksi pribadi. Jadi bisa disimpulkan karena koneksi atau hubungan silaturrahmi itulah seseorang mendapatkan pekerjaan yang menjadi salah satu sumber rezekinya.

Di atas tadi dari data ilmiahnya, Sob. Pembuktian lainnya bisa dilihat ketika kita sedang lapar, terus main ke kosan teman, eh..., tahu-tahunya di sana ada makanan terus kita ditawari makanannya –walau mungkin awalnya basa-basi. Itu juga termasuk salah satu rezeki dari silaturahmi, lho. Hehe. (*catatan: trik ini boleh dicoba ketika anda krisis keuangan menghantui anda, asal jangan mencobanya ke teman yang juga lagi sama-sama krisis, ya)

Keberkahan kedua dari silaturahmi adalah ‘dipanjangkan umurnya’. Ada dua pemahaman dalam penafsiran ‘dipanjangkan umurnya’ ini. Ulama-ulama terdahulu kerap memaknai dengan seringnya kita menjalin silaturahmi atau membina hubungan baik dengan sesama, maka kita akan dicintai dan disenangi banyak orang. Ketika sudah wafat berkalang tanah, sosok kita jadi masih dikenang dan sering disebut-sebut kebaikannya.

Pendapat berikutnya mengatakan kalau silaturahmi tersebut benar-benar dapat memperpanjang umur. Hal ini dibuktikan oleh Hold Lunstad, seorang psikolog dari Brigham Young University di Utah yang melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial terhadap kesehatan. Tim tersebut melakukan analisis pada 148 penelitian terhadap 308 ribu lebih orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata 7,5 tahun.

Hasil penelitiannya lalu dipublikasi di jurnal Plos Medicine terbitan Public Library of Science yang menyimpulkan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibandingkan dengan mereka yang tanpa dukungan ini. Memiliki hubungan sosial yang baik seperti dengan teman, pernikahan atau anak sama baiknya untuk menjaga kesehatan seperti halnya berhenti merokok, menurunkan berat badan atau bahkan minum obat.

Nah, hubungan sosial yang disebutkan di atas tentunya berkaitan erat dengan silaturahmi. Tidak ada namanya hubungan sosial tanpa adanya interaksi sosial (silaturahmi), bukan?

Sebenarnya, masih banyak lagi contoh tentang keberkahan yang akan diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang rajin bersilaturahmi. Namun sekarang sudah saatnya kita beranjak kepada sesi “Apa seh pentingnya silaturahmi eeaaa?”.

Allah Swt berfirman.

".... Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 1)

Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa memelihara silaturahmi adalah perintah dari-Nya untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa. Berarti dapat dikatakan kalau silaturahmi merupakan suatu kewajiban bagi kita yang (semoga) digolongkan termasuk dalam golongan tersebut.

Hal ini juga dipertegas dalam hadis Rasullah Saw yang menyatakan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun ‘alaihi).

Kalau silaturahmi merupakan perintah langsung dari Allah dan Dia sangat menyukai dan memberi keberkahan bagi hamba-Nya yang melakukannya, lain halnya dengan mereka yang memutuskan tali silaturahmi. Allah sangat tidak suka, bahkan melaknat orang yang melakukan hal tersebut, seperti dalam firmannya di Surat Ar-Ra’d [13] ayat 25:

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”

Selain mendapat laknat Allah, orang-orang yang memutuskan tali silturahmi juga amalan ibadahnya tidak diterima dan mereka pun tidak akan diberi masuk surga. Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya perbuatan anak cucu Adam diperlihatkan pada setiap Kamis malam Jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi". (H.R. Ahmad).

"Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan." Sufyan berkata : 'yaitu yang memutus hubungan tali silaturahmi'. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Nah lho, serem banget bukan? Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang mendapat kesengsaraan seperti itu. Yuk, sekarang kita intropeksi adakah kiranya tali silaturahmi yang kita putuskan. Cek juga tali silaturahmi yang sudah lama direntangkan namun tidak kita teguhkan kembali. Jangan sampai juga tali tersebut lapuk kemudian putus dimakan rayap yang bernama waktu.

Terakhir, sebelum pembahasan tentang silaturahmi ini ditutup. Ada beberapa bentuk silaturahmi dalam konteks agama Islam yang dapat kita lakukan untuk menyambung atau memperkuat tali silaturahmi, di antaranya:

1)    Mengajak dalam kebaikan setiap saat.

2)    Saling bertegur sapa.

3)    Mencegah dan menghindari kesulitan/kesukaran.

4)    Saling mengingatkan dalam konteks kebaikan.

5)    Menyambungkan sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan.

6)    Silaturahmi tidak hanya aktivitas kontak fisik tetapi bisa dengan doa.

Oh iya, jangan lupa juga memanfaatkan media yang ada untuk bersilaturahmi. Mulai dari perangkat gadget yang beragam, internet, hingga media sosial dapat digunakan. Jadi, tidak ada alasan lagi istilah “memutuskan yang jauh menyambungkan yang dekat”, sekarang sudah saatnya menyambungkan yang dekat maupun yang jauh.


 
Yansa El-Qarni 
Materi ini dibawakan pada acara Halal-Bihalal Himasatrasia, 26 Agustus 2013

0 komentar:

Posting Komentar