Minggu, 04 Januari 2015

Menangis, Tanda Cinta Kepada Allah

sumber gambar: dostnet.biz


Kata “cinta”, tentunya bukan suatu yang asing lagi bagi kita. Satu kata ini akan menimbulkan begitu banyak interpretasi bagi setiap orang yang mendengarnya. Umumnya, ia menjadi simbol pengungkapan rasa kasih sayang yang sangat pada seseorang ataupun sesuatu. Bermacam-macam emosi akan bercampur dalam jiwa seseorang ketika ia merasakan apa yang dinamakan “cinta” tersebut. Apakah ia nanti akan sering senyum-senyum sendiri ketika memikirkan yang dicintainya, atau malah menangis tersedu-sedu ketika merindukannya.
Dalam cinta manusia kepada Allah, konsep ini lebih mengarah kepada cinta yang dihiasi tangisan. Seseorang yang cinta kepada Allah, apabila telah keasyikan berkomunikasi dengan-Nya terkadang dihadapkan dalam berbagai kondisi, seperti: harap, takut, sedih, tangis, bahagia, gemetar, tenang, berdebar dan lain sebagainya. Mari kita perhatikan pelajaran dari kehidupan para sahabat dahulu.
Dari Abi Hurairah r.a., dia berkata: “Ketika turun ayat afamin hadzal hadiisi, wa tadhhakuuna wa laa tabkuuna, wa natum saamiduuna, menangislah para sahabat (ahli shuffah) hingga mengalirlah air mata mereka membasahi pipi, dan ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliau pun menangis bersama mereka, maka kami pun menangis karena (terdorong oleh) tangisannya. Beliau bersabda: tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang yang terus-menerus berbuat dosa. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mendatangkan orang-orang yang berdosa kemudian Dia mengampuni mereka”. (H.R. Al-Baihaqi)
Ayat yang berbunyi afamin hadzal hadiisi, wa tadhhakuuna wa laa tabkuuna, wa natum saamiduuna ini adalah Surat An-Najm ayat 59 – 61 yang artinya “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)?”.
“Para sahabat ketika mendengar ayat ini dibacakan mereka sangat sensitif sekali, mereka merasa bahwa merekalah yang dimaksud oleh ayat ini. Merekalah yang ditegur dengan teguran yang sangat keras ini, merekalah yang dipandang sebagai yang keras kepala, sombong dan melecehkan ayat,” ungkap K.H. Saiful Islam Mubarak.
Pimpinan Podok Pesantren MAQDIS Bandung ini melanjutkan, para sahabat merasa terkena musibah besar yang tiada taranya. Maka saat itu mereka semua menangis karena merasa takut tidak mendapat ampunan hingga jauh dari Allah dan akan terlepaslah nikmatnya cinta yang terus mereka perjuangkan untuk meraihnya.
Pada kalimat “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah” mengandung arti bahwa menangis karena takut kepada Allah adalah jalan menuju selamat dari ancaman api neraka. “Tanpa menangis karena takut oleh Allah, ancaman api neraka tidak dapat dihindarkan. Dan bila tidak masuk neraka akan masuk surga,” paparnya.
Selanjutnya, kalimat “Dan tidak akan masuk surga orang yang terus-menerus berbuat dosa (maksiat)” mengungkapkan bahwa orang yang tidak menangis karena takut kepada-Nya, adalah orang yang terus berbuat maksiat. Dia tidak menangisi dosa, padahal tak ada seorang pun yang bersih dari dosa. “Hanya saja ada yang membiarkan dosanya terus bertambah dan ada pula yang berusaha mencucinya dengan air mata, yaitu dengan tobat menangisi dosa. Kendati masa berikutnya tidak dijamin akan terus bersih dari dosa,” jelas lelaki lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tahun 1987 ini.
Orang yang merasa dirinya suci dari kesalahan merupakan suatu dosa karena tidak menyadari akan kelemahan sendiri. Rasul menegaskan, kalau tidak ada seorang pun yang suci dari dosa, apa yang membuatnya tidak menangis di hadapan Allah? Sekiranya bersih dari dosa berarti orang itu tidak layak berada di dunia, seharusnya ia segera kembali ke hadirat Allah.
Surat An-Najm yang disebutkan dalam hadis di atas juga mengungkapkan bahwa orang yang tidak mau menangis dengan ayat Allah adalah orang yang lalai. “Orang yang tidak diragukan kecintaannya kepada Allah senantiasa mudah meneteskan air mata ketika mendengar Allah berfirman. Terutama bila ayat yang dibacanya adalah yang berhubungan dengan teguran,” ujar Saiful.

*Tulisan ini bersumber dari buku Cinta, Menggapai Hakikat Mahabatullah karya K.H. Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag. dengan beberapa penyuntingan seperlunya oleh penulis.
Pernah dipublikasikan di salmanitb.com pada bulan Juni 2013

0 komentar:

Posting Komentar