Sabtu, 10 Januari 2015

#Jodishan: Aku Memilih “Jomlo” Bukan “Jomblo”


 
sumber gambar: kapanlagi.com plus edit sendiri


Ada beberapa pihak yang bertanya pada penulis, “Mengapa pakai kata ‘jomlo’ bukan ‘jomblo’?”. Mungkin sebagian dari mereka mengira kalau penulis typo, kan biasanya kata yang umum dipakai itu “jomblo” bukan “jomlo”. Terkait hal ini, penulis mengonfirmasikan bahwa penulis sengaja memakai kata “jomlo”. Terus alasannya apa? Chocodot, eh, check this out...!

Kita akan memulai pembahasan dengan sebuah istilah yang sangat elit, yakni etimologi atau ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna. Di sini penulis akan menguak kata “jomblo” ini dari sudut pandang ilmu etimologi. Jadi, secara etimologis (penambahan huruf “s” menandakan kata itu berubah jadi kata sifat), asal mula kata “jomblo” itu berasal dari kata “jomlo”. Kata “jomlo” ini terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti “gadis tua”. “Gadis tua” yang merupakan pengertian “jomlo” itu terdiri dari kata “gadis” yang artinya “perempuan yang belum menikah” dan kata “tua” yang menandakan masa penantiannya.
Oleh karena bahasa bahasa bersifat dinamis (berubah-ubah), arti dari kata “jomlo” ini kemudian menjadi luas yang tak hanya digunakan untuk perempuan saja, tetapi juga untuk laki-laki. Adapun penambahan kata “b” di tengahnya itu karena adanya variasi penyebutan huruf dalam kata yang kadang secara “suka-suka” ditambah-tambah atau dikurang-kurangi oleh penuturnya. Bisa jadi penambahan huruf “b” itu disebabkan oleh adanya pertemuan huruf “m” yang lebih enak diucapkan kalau disertai huruf “b”, contohnya “ember” (singkatan dari kata “emang bener” yang seharusnya “emner” bukan “ember”).
Kata “jomblo” sendiri, kemungkinan besar takkan pernah dicantumkan oleh KBBI. Mengapa? Karena bahasa Indonesia yang baku di KBBI tak mengenal penyerapan kata dengan huruf konsonan berderet tiga –pada kata “jomblo” konsonan yang dimaksud adalah “mbl”. Jadi, apabila kata “jomblo” dimasukkan ke kata baku di dalam KBBI, pastinya ia akan kembali menjadi “jomlo” seperti kata muasalnya. Adapun kalau ditemukan kata yang mempunyai huruf konsonan berderet tiga di KBBI, umumnya itu adalah istilah kata asing yang diserap tanpa penyesuaian dengan bahasa Indonesia terlebih dahulu. Selain itu, penulis yakin di edisi KBBI yang akan terus di-update kelak, arti dari kata “jomlo” yang awalnya hanya “gadis tua” akan dimasukkan arti lainnya yang sudah diperluas ini. Sama halnya dengan kata “sarjana” yang awalnya hanya berarti “orang pandai (ahli ilmu pengetahuan)”, kemudian ditambahkan pengertiannya yang sudah diperluas, yakni “gelar strata satu yg dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi”.
Sebenarnya, kata “jomblo” ini tidak masalah apabila digunakan karena sudah dianggap sebagai istilah gaul yang sering digunakan pada zaman sekarang. Hanya saja, jika hendak menuliskannya dengan tata ejaan yang benar, maka kata “jomblo” ini harus dimiringkan. Nah, alasan penulis memilih untuk menggunakan kata “jomlo” pada tulisan-tulisan #Jodishan adalah karena penulis males untuk memiringkan tulisannya. Hahahaha... :v

Yansa El-Qarni, 
10 Januari 2015

5 komentar:

wow wkwkwkw , lengkap banget cuma , bahas dua kata , tapi artikelnya lebih dari 800 kata ,, seo Friendly donk
thanks ya

terimakasih infonya.
di akhirnya bikin ketawa. hehe

Posting Komentar