Senin, 24 Desember 2012

Remaja Gaul Islami, Why Not!



“Lu mau ke mana, Fik?”
            “Gua mau nonton ke bioskop. Mau ikutan, ga?”
            “Ah..., bioskop..., bosen! Mending ikutan gua. Gua ada pengajian di masjid ni. Ustad yang ngisinya dari Mesir, lho. Jarang-jarang!”
            “Ngaji bareng ustad dari Mesir!? Kayaknya seru, tuh! Mending gua ikutan elu, dah. Kalo nonton gua bisa nunggu DVD-nya keluar aja. Hitung-hitung ngemat uang untuk sedekah. Hehehe.”
***
            Apakah mungkin percakapan seperti ini bisa terjadi pada para remaja sekarang, ya? Masjid dapat menyaingi bioskop, pengajian lebih keren dari nonton film, dan uang untuk hura-hura malah dipakai sedekah.
Ah, hanya khayalan! Ga mungkin ada remaja gaul Islami!
Ups, belum tentu! Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini, sob!
            Di zaman sekarang, banyak para remaja yang cenderung suka dengan hal-hal bersifat duniawi, seperti nongkrong, pacaran, dugem, dan sebagainya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang jatuh ke dalam lembah maksiat dan kriminal, seperti seks bebas, perkelahian, perjudian, pemakaian obat terlarang, bahkan pembunuhan. Tapi kenyataanya, masih ada juga, kok, para remaja yang rajin belajar, rajin ibadah dan nurut kepada orang tuanya.
            Nah, pertanyaannya, mengapa bisa ada dua jenis remaja seperti yang disebutkan di atas? Itu dikarenakan masa remaja adalah masa rentan, masa di mana mereka mencari jati diri, sehingga perlu mendapatkan bimbingan. Begitupun apabila kita ingin suatu saat nanti para remaja bisa seperti remaja yang ada di dialog pembukaan tulisan ini. Oleh karena itu, diperlukan adanya bimbingan tentang pentingnya Islam kepada mereka.
            Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. ...(An-Nissa ayat 9)
            Ayat Al Qur’an tersebut memaparkan agar kita jangan meninggalkan para generasi penerus sehingga mereka lemah dalam berbagai hal, terutama dalam Islam. Maka dari itu, pendidikan Islam bagi remaja sangatlah penting agar mereka dapat menjadi generasi muslim yang kuat. Generasi yang nanti akan menjadi pemuda penopang Islam yang mampu melawan arus zaman, seperti generasi-generasi pemuda Islam sebelumnya.
“Mereka ahli ibadah ketika kegelapan menyelimuti mereka
Berapa ahli ibadah yang air matanya mengalir di pipi(nya)?
Mereka adalah singa belantara jika panggilan jihad menyapa mereka
Mereka berlari menuju kematian untuk memperbarui melihatnya (Muhammad)
Ya Tuhan, kirimlah kami orang-orang seperti mereka
Mereka mengembalikan kehormatan yang telah kami sia-siakan.”
(Dr. Aidh Al-Qarni, pengarang buku La Tahzan)
            Seperti itulah gambaran pemuda muslim dahulu, yaitu para pemuda salaf mulai dari Abdullah bin Rawahah, Ja’far bin Abu Thalib, Usamah bin Zaid, Mush’ab bin Umair, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar.Pemuda dengan sosok seperti ini dapat terbentuk apabila para remaja kita mendapat pendidikan Islam dengan baik. Mereka akan menjadi pemuda yang beriman dan bertaqwa, mencintai Allah dan Allah mencintainya, bahkan mereka berani dalam membela tegaknya Islam di muka bumi.
            Selain membentuk hal tersebut, pendidikan Islam juga dapat mencegah maksiat-maksiat yang sekarang berada di sekeliling para remaja. Pergaulan bebas, tawuran, melawan orang tua dan sebagainya, tidak akan dilakukan oleh para remaja yang mendapatkan pendidikan Islam.
            Pendidikan Islam paling efektif yang dapat diberikan kepada para remaja adalah dengan memberikan contoh atau teladan keislaman bagi mereka, mulai dari ibadah dan akhlak yang dapat mereka tiru. Hanya saja, harus dipetimbangkan juga keadaan lingkungan dan teman bermain yang terkadang cenderung menjadi panutan mereka. Memberikan batas-batas tertentu dengan tetap menghargai dan pengertian kepada mereka agar bisa menjaga diri dari efek negatif sekitarnya. Jadi, mereka dapat tetap bergaul dengan baik tanpa terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk.
            Dengan melakukan pendidikan Islam seperti ini, tidak mustahil dialog remaja seperti pembuka tulisan ini dapat terealisasikan.Remaja gaul Islami, why not!J

Rujukan:
Al-Qarni, Aidh Abdullah. 2006. Sentuhan Spritual Aidh Al-Qarni. Jakarta: Al Qalam
dan beberapa sumber dari internet ( http://nyiarhikmah.blogspot.com dan http://episentrum.com )

4 komentar:

elu punya blog jg yah, kapan2 maen ke rumah (baca:blog) gw yoo

yoyo... make na kita saling follow bu...

Posting Komentar