Senin, 16 Juni 2014

Kata “Hati” yang Membingungkan

sumber gambar: fitrikhaeranisiregar.blogspot.com



Siapa yang pernah bingung dengan kata “hati”?

Eits, ini bukan tentang bahasan cinta-cintaan, kok. Kali ini saya ingin membahas kata “hati” dalam bahasa Indonesia dan perbandingannya dengan bahasa yang lainnya.

Saya akan kasih contoh,
“Hatiku berdebar-debar ketika ia berada di hadapanku.”

Apakah Anda melihat sesuatu yang agak janggal dari kata tersebut?

.
.
.

Yup, benar sekali. Kok, “hati” bisa berdebar-debar, ya? Bukannya yang berdebar-debar itu biasanya “jantung”?
(Kalau Anda sadar akan hal ini, berarti Anda memiliki kepekaan bahasa. Selamat.^^)

Terus, ada juga kasus seperti ini.

Seorang ustaz menyampaikan bahwa penyakit hepatitis banyak dialami oleh orang kaya dan mapan, maupun yang rupawan. Menurutnya, hal itu bisa terjadi ketika dalam hati mereka terdapat perasaan iri atau dengki walaupun sudah memiliki kelebihan di suatu sisi.

Simpelnya, konon menurut ustaz tersebut, seseorang dapat terkena penyakit hati seperti hepatitis dan kawan-kawannya apabila “hati”-nya kotor oleh perasaan iri atau dengki. Kira-kira benarkah pendapat ustaz tersebut?

Nah, kini akan saya bahas sedikit terkait kata “hati” yang kian membingungkan ini.

Secara fisik, “hati” biasanya kita artikan sebagai organ tubuh yang ada pada makhluk hidup yang dalam istilah ilmiahnya disebut lever. Lever ini mempunyai berbagai fungsi, salah satunya adalah melakukan penyerapan sari-sari makanan dan menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh. Apakah “hati/lever” ini bisa berdebar-debar? Tentunya tidak, karena yang organ tubuh yang dapat berdebar-debar hanyalah jantung yang bertugas memompa darah.

Dalam bahasa Arab, kita mengenal kata qalbun yang diserap ke bahasa Indonesia menjadi kalbu dan sering juga disebut “hati”. Padahal, artinya kata qalbun ini secara fisik adalah “jantung”, sedangkan “hati/lever” dalam bahasa Arab disebut kabada (Saya mengeceknya di Google Translate karena bukan ahli bahasa Arab. Hehe.). Hal ini sama dengan kata heart dalam bahasa Inggris yang juga diartikan sebagai “hati”, padahal makna aslinya lebih tertuju pada “jantung”. Jika ada kasus seperti di atas, ketika ada ustaz yang mengatakan kalau ada seseorang yang sering mengotori “hati/qalbun”-nya, maka seharusnya orang itu menderita penyakit jantung, bukan hepatitis.

Dari dua pembahasan tersebut, kata “hati” ternyata tidaklah merujuk pada wujud organ hati dalam tubuh manusia saja. Di dalam bahasa Indonesia, kata “hati” memiliki tujuh arti kata yang berbeda-beda sesuai konteks pemakaiannya. Menurut Mbah Kababe’i (baca: KBBI [Kamus Besar Bahasa Indonesia]), berikut ini adalah arti katanya:

ha·ti [1] n 1 Anat organ badan yg berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dl darah dan menghasilkan empedu; 2 daging dr hati sbg bahan makanan (terutama hati dr binatang sembelihan): masakan sambal goreng --; 3 jantung: -- nya berdebar-debar; 4 sesuatu yg ada di dl tubuh manusia yg dianggap sbg tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb): segala sesuatunya disimpan di dl --; membaca dalam -- , membaca dalam batin (tidak dilisankan); berbicara dr -- ke -- , dng jujur dan terbuka; 5 apa yg terasa dalam batin: sedih -- ku memikirkan nasib kawanku itu; 6 sifat (tabiat) batin manusia: orang itu baik -- nya; 7 bagian yg di dalam sekali (tt buah, batang, tumbuhan, dsb).

Pada arti kata nomor 1 dan 2, “hati” mengacu pada lever. Lain halnya pada nomor 3, hati diartikan sebagai “jantung”. Kok bisa? Menurut saya, hal ini sangat berhubungan dengan arti kata nomor 4, 5, dan 6 yang mengacu pada “hati” yang bersifat nonfisik atau batin. Dalam bahasa asing–seperti qalbun pada bahasa Arab dan heart pada bahasa Inggris–, “hati” batin ini dianggap sebagai pusat perasaan. Maka dari itu, bahasa lain dia mengambil istilah “jantung” sebagai representasinya yang merupakan pusat tubuhnya manusia–khusunya dalam peredaran darah. Berbeda dengan bahasa Indonesia mengambil “hati” sebagai representasinya. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia telah mengenal “hati” sebagai sumber emosi manusia, sehingga pusat batin itu pun lebih umum disimbolkan dengan “hati”, bukan “jantung”.

Oh iya, “hati” batin ini bukan terletak di lever ataupun jantung lho, walaupun kebanyakan orang apabila ditanya di mana letak hati pasti akan meletakkan tangannya di atas dadanya. Letak “hati” batin ini lebih tepatnya berada di otak, yaitu pada bagian amygdala yang berfungsi sebagai pusat ingatan emosi. Jadi, jelaslah segala perasaan yang katanya bersumber dari “hati” itu sebenarnya adalah dari otak.

Kalau sudah mengetahui hal ini, mungkin kadang kita akan merasa geli ketika ada seseorang yang bilang, “Jangan pikir pakai hati, tapi pakai otak, dong!” Padahal keduanya sama saja. Hehe.

Semoga setelah membaca tulisan ini Anda tak bingung lagi dengan kata “hati”. :D

 Yansa El-Qarni

Catatan:
Terdapat dua kata “hati” di dalam KBBI, namun kata “hati” yang kedua berbeda kata dasarnya dengan kata “hati” yang dibahas di sini.
ha·ti [2], ha·ti-ha·ti adv ingat-ingat; hemat-hemat; waspada.

5 komentar:

Bagus, membuat saya berpikir ulang, ternyata masih ada penafsiran yang salah tentang hati ini. Keep writing. :-)

www.muslimgreget.com

Eh, ada penulis yang mampir di blog saya... :D
Wah... wah... :D

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

waah keren.. saya baru tau otak emosi *maklum jarang belajar biologi :P

Oya sekali2 baca tulisan saya juga ya kang di http://the-sealovers.blogspot.com
Hanupis ;)

Hahaha... Siap2... :)
Eh, mau dipanggilnya Nisa Rahmah Suci atau Ginanjar Eka Arli nih... Hehe... :D

Posting Komentar