Minggu, 04 Januari 2015

Tetesan Air Mata Cinta



sumber gambar: hartakata.wordpress.com


            Pernah membuat ibumu menangis? Sampai beliau mengunci diri di kamarnya sendirian? Lalu ketika kau memanggilnya tak ada jawaban selain isak tangisnya dari dalam kamar? Aku pernah melakukannya, Sobat.
            Entah apa yang aku dan kakakku dahulu pikirkan. Saat itu kami berdua kompak untuk membuat perempuan itu menangis. Sosoknya yang tegar itu kami buat menitikkan air mata hingga mengalir melalui celah-celah kerutan bawah mata penanda keriputnya. Keriput seorang ibu yang selalu memikirkan anak dan keluarganya, bekas goresan waktu dan beban pikiran yang mungkin tiada henti berputar di kepalanya kemudian mengendap di garis-garis wajahnya.

            Siang itu, sekali-kalinya aku dan kakakku berbeda pendapat dengan beliau. Sekali-kali itu pula kami beradu mulut sampai membentaknya. Sekali-kali itu jugalah yang menjadi momen dan akan kami ingat selamanya. Ini terjadi karena sesuatu yang sebenarnya sepele, kami tidak suka dengan perilaku ibu yang suka mengoceh! Terlebih apabila beliau tidak setuju dengan pendapat kami, seolah ocehan dari mulutnya takkan berhenti dari pagi hingga pagi lagi. Bahkan, bapak kami pun akan memilih diam apabila telah melihat ibu seperti itu.
            “Ibu tidak suka kalau kalian melakukan hal itu!”
            “Teman-teman kami saja pada dibolehkan sama orang tua mereka kok, Bu!
            “Pokoknya kalau kata ibu tidak boleh ya tidak boleh!”
            “Tapi kan, Bu…!
            “Kalian dengarkan saja kata-kata ibu!”
            Beliau memang tergolong orang yang tempramen, mudah marah dan sangat cerewet. Saat aku dan kakakku membuat beliau menangis dulu, kami berdua berada di usia yang labil. Remaja yang baru mengenal dunia keremajaannya. Sementara itu, ibu masih menganggap kami sebagai anaknya yang masih selalu menurut, anaknya yang apabila diberi uang jajan akan diam dan segera berlari ke toko lalu kembali membawa jajanan dengan wajah ceria. Beliau sepertinya lupa kalau para anaknya ini sudah mulai tumbuh semakin dewasa.
            Ah, ibu ga ngerti kami!”
            “Ibu kuno!”
            “Ibu cuma tahunya itu-itu mulu. Ga mau ngalah sama anaknya terus!”
            “Ibu jahat!”
            Keluarlah kata-kata kasar dari mulut kami. Kata-kata yang sangat dilarang oleh Sang Rahman untuk diucapkan kepada orang tua. Kata “ah” dan kata-kata lainnya itu menghujam tepat ke bilik jantung beliau. Saat itulah bibirnya bergetar dan terdiam. Perempuan paruh baya itu menatap kami nanar, lalu beranjak pergi meningalkan kami dengan langkah cepat. Kami langsung saling tatap kemudian terdiam. Baru kali ini kami melihat beliau seperti itu. Entah apa gerangan yang terjadi pada beliau. Apakah beliau begitu sakit hatinya karena perkataan kami tadi?
            Semalam penuh ibu mengunci dirinya di kamar, melantunkan isak tangis yang membuat kami gelisah. Tak mau diajak makan oleh kami, bahkan tidak menyahut saat dipanggil. Bapak pun hanya sesekali ke kamar menemuinya. Tidak ada banyak suara ketika mereka berdua berada di kamar.
            Paginya, kami melihat kembali sosok perempuan itu dengan senyuman hangatnya kepada kami. Beliau sudah keluar dari peraduannya semalam. Pelukan sayang langsung kami layangkan padanya. Dibalasnya pelukan kami dengan pelukan erat dan ciuman di dahi kami berdua. Hangat, kami bertiga menikmati kebersamaan ini dengan saling menyelami perasaan masing-masing. Tiba-tiba air mata beliau menetes kembali dari matanya yang mulai merabun. Tetesan air mata cinta. Jatuh tepat menetes di wajah kami yang menatapnya lembut.
            “Ibu minta maaf pada kalian ya, Nak. Ibu sayang kalian berdua.”


Yansa El-Qarni,
tulisan lama yang disunting kembali

0 komentar:

Posting Komentar