Selasa, 29 September 2015

Direktur PIMPIN Bandung Bahas The Worldview of Islam


Sumber gambar: stevecha.net

Selasa (17/03), Indonesia Tanpa JIL (ITJ) kembali mengadakan kelas Sekolah Pemikiran Islam (SPI ITJ) pertemuan kedua. Kali ini, SPI ITJ mengundang Wendi Zarman, Direktur Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) Bandung sebagai pemateri.
Wendi memberikan kuliah bertemakan The Worldview of Islam atau Pandangan Alam Islam (PAI). “Pandangan Alam Islam adalah pandangan Islam tentang realitas kebenaran (ru’yatul Islam lil wujud) yang muncul sebelum mata pikiran kita mengungkapkan apa hakikat wujud sebenarnya,” ujar Wendi mengutip pernyataan dari Prof. Syed Muhammad Naquib (SMN) Al-Attas dari buku Islam and Secularism.

Sabtu, 26 September 2015

Aku Berpikir Maka Tuhan Ada


Gambar: Twitter.com

“Aku berpikir maka aku ada.” (Descartes)

Kalimat yang diutarakan filsuf kenamaan dari Perancis ini kerap menjadi rujukan orang-orang yang mencoba berpikir filosofis, terutama terkait dengan bagaimana memaknai kehidupannya. Di masa sekarang, berpikir kritis dengan memakai logika dan bukti-bukti dalam bentuk yang rill sudah menjadi tradisi ilmiah di kalangan saintis untuk menyikapi rahasia kehidupan. Sayangnya, proses berpikir tersebut kian sekuler sehingga banyak yang tidak menemukan adanya pihak yang Maha Kuasa di balik apa yang sedang mereka sibak.

Menulis Karya Antimainstream


Gambar: kartikoputra.blogspot.com
Bicara tentang antimainstream, saya ingin memulainya dengan sebuah analogi. Bila ada sebuah sungai besar, tentunya ia memiliki arus utama yang menuju ke laut. Arus yang menuju ke laut itu bisa kita sebut sebagai mainstream-nya. Lalu, jika ada arus lain yang melawan arus utama tersebut, itulah yang dapat disebut antimainstream-nya. Tentunya, jika kita ingin menjadi antimainstream seperti yang dideskripsikan  tersebut, jelas bukan pekerjaan yang mudah.

Jumat, 25 September 2015

Akidah: Benteng Ghazwul Fikri


Sumber foto: votreespirit.wordpress.com
Ghazwul fikri atau perang pemikiran kerap menjadi momok kaum muslim. Banyak kaum muslim yang takut, bahkan parno terhadap wacana tersebut. Di sisi lain, terdapat pula mereka yang tak peduli sehingga tak terkalahkan dengan mudahnya dalam peperangan nyata namun tak terlihat secara langsung ini.
Ghazwul fikri ini umumnya diterjemahkan sebagai peperangan pemikiran, dapat berupa adu pendapat, filsafat, dan sebagainya. Namun, secara khusus, ghazwul fikri diartikan sebagai perang pengaruh yang dilakukan pihak Barat kepada kaum muslimin. Inilah yang dinilai menjadi momok tersebut. Pengaruh ini dapat berupa pola dan gaya hidup, pemikiran-pemikiran liberal, dan sebagainya yang menjauhkan muslim dari agamanya.

Rabu, 23 September 2015

Kelas Perdana Sekolah Pemikiran Islam ITJ: Mengenal Ghazwul Fikri



 
Gambar: Sofietisa.com
Ghazwul fikri bisa mengalahkan muslim, tapi tidak bisa mengalahkan Islam,” ujar Hafidz Ary saat memberi materi di pertemuan perdana Sekolah Pemikiran Islam yang diselenggarakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) di ruang aula Gedung Mi’raj Tour and Travel, Bandung, Selasa (10/03).
Pada pertemuan ini diangkat tema mengenal ghazwul fikri atau perang pemikiran sebagai pengantar perkuliahan yang akan berlangsung selama tiga bulan ini. Hafidz memaparkan kalau ghazwul fikri ini merupakan upaya dari para musuh Islam untuk menipu umat dengan berbagai macam cara agar berpaling dari agamanya. Hafidz memberi contoh buku-buku dan film-film yang beredar di Indonesia yang merupakan karya para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) merupakan salah satu sarana ghazwul fikri tersebut.

Jumat, 10 Juli 2015

Perbedaan Taklid dan Taklid Buta


Sumber foto: khazanahilmublog.wordpress.com
“Taklid” dan “taklid buta”. Sekilas, kedua kata ini tampak sama. Yang membedakannya hanya ada kata “buta” yang membentuk kata majemuk pada kata yang kedua. Secara sederhana, taklid dapat diartikan sebagai mengikuti pendapat seseorang. Dalam Islam, taklid ini biasanya merujuk pada mengikuti pendapat ulama tentang hukum-hukum Islam.

Pada dasarnya, taklid ini merupakan hal yang diperbolehkan, khususnya untuk orang awam yang mempunyai keterbatasan ilmu untuk mengemukakan suatu pendapat perihal hukum Islam. Namun, bukan berarti pendapat tersebut harus diikuti secara mentah-mentah begitu saja. Kita harus tahu apa yang menjadi landasan hujah dari munculnya pendapat tersebut agar tidak menjadi “taklid buta”.

Selama ulama yang pendapatnya diikuti tersebut  mengambil hujah pemahamannya dari Alquran dan sunah, maka kita bisa bertaklid padanya. Namun, taklidnya juga bukan taklid buta yang MENERIMA PENDAPATNYA MENTAHMENTAH, TANPA MENGERTI DAN BERUSAHA UNTUK MENGETAHUI DALILNYA. Fenomena taklid buta ini kerap sekali terjadi di masyarakat, baik dari dahulu hingga kini.

Rabu, 21 Januari 2015

Puisi Esai: Proklamasi Merdeka Jalan Proklamasi



Tugu Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta (Sumber gambar: kaskus.co.id)


/1/
Proklamasi
Kami pemuda Jalan Proklamasi[1] dengan ini menanyakan,
Apakah kami sudah benar-benar merdeka?
Dengan hidup bebas di jalanan
Dengan bertindak semaunya kami
Tak pernah peduli mana yang benar dan salah

Sekali lagi,
Apakah ini yang dikatakan merdeka itu?

Jakarta, 17 Agustus 2011
Roni Setiawan alias Roy

Kubacakan puisi gubahanku
Di panggung sanggar Bang Ebeng
Di hadapan para temanku yang senasib
Di hadapan para pemerhati nasib kami[2]
—dan tentunya,
Di hadapan gadis pujaanku
Lastri