Senin, 20 Februari 2012

Hikmah si Sandal

             Sobat pernah kehilangan sandal di masjid? Apa yang sobat rasakan ketika sandal itu raib, lenyap dari tempat sobat menyimpannya? Kesel? Sebel? Mangkel? Atau bahkan sampai dendem, jadi pengen mengambil sandal lain yang ada di depan yang sobat belum tahu siapa pemiliknya? Eh…, jangan, bisa berabe nanti urusannya kalau ternyata punyanya Pak RT. Hehe.
            Coba deh bayangkan, ketika sobat sebelumnya datang ke masjid dengan sandal kesayangan, mau baru atau lama kek, yang penting tuh sandal sudah jadi pasangan hidup kaki sehari-hari. Kemudian sobat masuk ke masjid lalu solat dengan khusyuknya. Nah, saat pulangnya si doi (sandal) ternyata sudah berpindah tempat alias hilang. Pasti rasa tenang sehabis solat tadi tiba-tiba berganti dengan rasa gelisah mencari sandal.
            “Di mana sandal gue? Gue yakin nyimpennya tadi di sini. Sekarang kok, ga ada? Mungkin ada yang salah pakai kali, ya? Atau memang ada yang pengen nyurinya, ya? Tapi kan, sandal kesayangan gue itu sudah butut. Kok, masih minat aja kalau mau nyuri? Sandal lain masih banyak kale. Oh, mungkin temen gue nih yang jahil. Jadi sandal gue jadi korban. Tunggu, tapi temen-temen gue kan, pada jarang ke masjid?”
            Di atas tadi adalah versi orang yang su’udzon(perasangka buruk)-nya berimbang dengan husnudzon(perasangka baik)-nya. Hehe. Terus bagaimana kalau orang yang kehilangan sandalnya adalah orang yang selalu berperasangka baik? Simak nih.
            “Di mana sandal gue? Hmmm…, kayaknya berpindah posisi. Gue cari dulu, deh. (selang beberapa menit). Ga ketemu juga. Ah, mungkin sudah takdirnya hilang dan mesti ganti baru kayaknya. Yah, memang banyak kenangan bersama tuh sandal butut. Tapi sekarang saatnya kita berpisah sandalku tercinta.”
            Hikz…, hikz…, hikz…, subhanallah ya. (Syahrini mode on). Beginilah kalau tipe orang yang berprasangka baik. Ia tidak cepat menyalahkan orang lain, namun ia akan mengambil hikmah dari apa yang terjadi dalam peristiwa yang dialaminya, walaupun itu hanya dari sebuah sandal butut.
            Cara menyikapi persoalan pun begitu, kita punya hak untuk menentukan sikap kita. Apakah kita akan mulai menanggapinya dengan mengambil persepsi buruk atau persepsi baik. Kalau kita mengambil persepsi buruk, maka pemikiran kita akan berkutat dalam hal-hal yang negatif. Sedangkan apabila kita mengambil persepsi baik, maka pemikiran positif akan datang menenangkannya, walau kita dalam keadaan yang buruk seperti kehilangan sandal di masjid tadi. Bukan begitu, sobat? :)

19 Februari 2012, ketika sandal hilang selepas solat asar di masjid

Minggu, 12 Februari 2012

Hidup adalah Pilihan

Hidup itu adalah pilihan, pilihan yang diberikan Allah kepada manusia. Pilihan yang selalu hadir berpasang-pasangan. Lalu manusialah yang menentukan jalan mana yang akan ditempuhnya. Ada jalan baik, tapi ada pula yang buruk. Ada jalan aman, tapi ada juga yang penuh resiko. Seperti penciptaan dunia, Allah menciptakan siang dan malam salah satunya untuk manusia mengerti hal ini.
Misalnya saja, kita diberi pilihan mau rumah tipe 21 atau tipe 36? Rumah ini diberikan secara cuma-cuma alias GRATIS! Tidak ada syarat yang macam-macam. Manakah yang akan kita pilih? Mungkin orang kebanyakan akan memilih yang tipe 36, yang jelas lebih besar dan lebih megah dibandingkan tipe 21 yang lebih kecil dan lebih sederhana.
Selanjutnya diberi pilihan lagi, apakah mau mobil baru atau mobil bekas yang diberikan cuma-cuma seperti rumah di atas? Tak perlu diragukan kebanyakan orang pasti memilih mobil baru. Kalau ditanya mau istri cantik atau biasa-biasa saja? Yah tentu jawabannya istri cantik. Dan itu menurut orang kebanyakan.
Nah, umpamanya kita anggap diri kita itu memilih seperti orang kebanyakan. Setelah kita mendapat rumah tipe 36, mobil baru, sekaligus istri yang cantik, kita baru mengetahui kalau rumah tipe 36 itu ada di tengah hutan, mobil baru itu adalah hasil curian, dan istri kita yang cantik itu ternyata telmi alias telat mikir, apa yang akan kita lakukan. Sedangkan ternyata pilihan yang sebaliknya, rumah tipe 21 itu ternyata berada di pusat kota, mobil bekasnya memang benar-benar cuma-cuma, dan istri yang biasa-biasa itu adalah istri yang pandai dan cerdas, apakah kita akan menyesalinya?
Itulah gambaran tentang pilihan dalam hidup. Pilihan yang akan menimbulkan hukum sebab akibat. Pilihan yang kadang di luar perkiraan kita. Karena memang tidak selamanya yang kita anggap bagus itu baik untuk kita. Boleh jadi setelah melihat kenyataan seperti cerita di atas kita jadi lebih ingin memiliki rumah tipe 21 yang di pusat kota dari pada rumah tipe 36 yang di tengah hutan. Mungkin yang terpikirkan kalau rumah saya ada di pusat kota, berarti hidup saya akan lebih mudah, tidak perlu bersusah mencari keperluan hidup seperti di hutan karena di kota semuanya sudah tersedia.
Tapi kita juga kita tidak tahu rahasia Allah, qodarullah, rumah yang berada di pust kota itu ternyata rawan tawuran, sedangkan yang di tengah hutan itu aman dan tentram. Jadi manakah yang lebih baik?
Pada hakikatnya semua pilihan yang diberikan Allah itu baik, cuma bagaimana kita sebagai manusia ini menyikapinya. Bisa jadi sekarang persepsi kita terhadap rumah tipe 21 yang berada di pusat kota namun rawan tawuran itu buruk. Tapi sekarang coba kita belajar menyikapinya dengan positif. Ternyata dengan keberadaan kita di sana malah membuat daerah itu jadi lebih aman karena kita adalah orang yang bisa mengendalikan situasi tersebut. Tindakan kita telah berhasil membuat persepsi yang awalnya jelek menjadi baik.
Di sanalah penting pengambilan pilihan kita yang seharusnya berdasarkan pemikiran seperti ini, “Semua manusia itu berujung pada satu hal, yaitu mati. Jadi pilihan yang harus saya ambil adalah pilihan yang nanti akan membawa saya menuju mati dalam kondisi yang baik atau khusnul khotimah.”

Kamis, 09 Februari 2012

Pembelajaran dari Masa Lalu


“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pembelajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu daan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf: 111)
            Berkaca dari masa lalu, memetik hikmah dari buah kejadiannya, inilah yang disebut pembelajaran. Manusia hidup disertai dengan berbagai masalah yang mengiringinya. Masalah tersebut ada yang pernah dihadapi sebelumnya, ada pula yang belum pernah sama sekali. Penyelesaian, walau masalah tersebut pernah dihadapi, bukanlah hal yang mudah. Nyatanya banyak kejadian sama yang tetap saja tidak ditemukan penyelesaian karena gagal belajar dari masa lalu.
            Pengalaman pribadi tidaklah cukup sebagai sumber pembelajaran. Kisah-kisah orang lain juga merupakan sumber yang tak dapat digantikan. Sumber mata air yang tak pernah kering. Sumber mata air yang bisa ditemukan dimanapun.  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri bahkan pernah diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengambil pembelajaran dari kisah para nabi dan rasul sebelumnya seperti yang tertera di ayat surat Yusuf tadi. Ini pertanda bahwasanya dalam kisah-kisah masa lalu itu terdapat petunjuk orang-orang yang memikirkannya.
            Tokoh proklamator Indonesia, Ir. Soekarno, juga pernah berkata “jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau yang biasa disingkat JAS MERAH. Benar yang dikatakan beliau karena sejarah atau masa lalu merupakan gudang perbaikan menuju masa depan yang lebih baik. Tak ada orang yang sukses tanpa menghargai dan mempelajari sejarah masa lalu yang ada. Barangsiapa yang masa lalunya dijadikan guru, niscaya ia akan mudah menapaki langkahnya ke depan.
            Aliran waktu yang melaju tanpa pernah kembali menandakan masa lalu adalah suatu yang sudah terjadi dan mustahil diubah. Dari hal ini seharusnya manusia belajar menggunakan waktu yang ada sebaik mungkin. Apakah waktu sekarang dimanfaatkan maksimal, apakah masa lalu sudah diambil hikmahnya, lalu apakah masa depan sudah dipersiapkan. Pertanyaan ini adalah hakekat waktu yang perlu dijawab pribadi masing-masing. Allah menegaskan dalam firmannya “Demi masa. Sesengguhnya manusia itu merugi.” (Q.S. Al Asr: 1-2). Jelas bahwa siapa pun yang menyia-nyiakan waktu adalah termasuk kategori orang-orang yang merugi, begitu juga yang menyiakan masa lalu dan tidak mengambil manfaat darinya.
Pasir waktu tak dapat kembali
Ia sirna dihembus angin
Hanya debu melekat disisi
Biarkan ia tetap abadi
(EA)