Minggu, 22 April 2012

Daarut Tauhid


            “Wuih…, subhanallah!”
            “Astagfirullah! Hoy, Ahmad! Kamu mau ngurangin pahalamu, ya?”
            “Rezeki itu, Suf. Jangan disia-siakan, atuh. Hehe.”
            “Itu bukan rezeki namanya. Itu, mah, zina! Dari tadi kamu plototin terus tuh akhwat, dari tadi dia mucul sampai dia melewatimu.”
            “Kan, bening, Suf. Kamu tidak tertarik apa?”
            “Nggak!”

            Sahabatku Yusuf ini memang terlalu alim orangnya. Berbeda denganku yang matanya masih suka berkeliaran ke sana-ke mari. Apalagi kalau ada akhwat, selalu saja aku berhasil ditaklukkan mereka dengan tampilan perempuan muslimahnya yang serba berpakaian lebar yang membuatku terpesona. Padahal ini sudah tahun kedua aku nyanti di Pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung pada Program Pesantren Mahasiswanya (PPM), tetap saja jiwa ini tidak bisa menghilang begitu saja.
            Di pesantren ini aku dan teman-temanku yang semuanya adalah mahasiswa, bisa berkuliah sambil nyantri. Ada yang masuk ke program ini karena ingin benar-benar belajar tentang islam, salah satunya Yusuf, dan ada pula yang hanya karena mencari tempat tinggal, salah satunya aku. Maklumlah, biaya program ini plus asramanya hanya 2,8 juta per tahun, lebih murah dibanding rumah kos yang berada di dekat kampusku yang rata-ratanya di atas 3 juta.
            Hmmm, tapi itu dulu, sih. Niat awalku tersebut sudah mulai berubah karena lingkungan dan teman-temanku di sini rata-rata religius semua. Ditambah lagi aku terjebak masuk salah satu Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di kampusku, UPI. Jadi, deh, sekarang aku ikhwan. Ya…, tapi masih ikhwan nyeleneh. Hehe.
            Yusuf, sahabatku ini, adalah penyebab semuanya. Dia yang mengajakku ngekos bareng di tempat murah, yang ternyata pesantren, dan masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang seru, yang ternyata LDK. Maklumlah, aku sebagai perantau dari kampung ini memang kurang tahu mengenai kota besar dan dunia kampus sebelumnya. Yusuflah yang membantu dan membimbingku ketika aku baru sampai pertama kali di Bandung sendirian. Padahal waktu itu kami baru pertama kali bertemu di Masjid DT, namun dia langsung tak segan menolongku sampai sekarang.
            Ya, dia adalah ikhwan sesungguhnya, ikhwan luar biasa yang kukagumi. Sosok lelaki yang berjanggut dan selalu memakai peci ke mana pun dia pergi. Namun, penampilannya tersebut tidak pernah menghalanginya untuk bergaul dengan siapa pun.
            Sekarang kami berdua dalam perjalanan menuju Masjid DT yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari asrama. Kami berdua akan menemui Aa Gym, kiai pesantren kami, untuk mengundang beliau menjadi pemateri di acara LDK yang aku menjadi ketua pelaksananya. Acara yang aku juga bingung kenapa aku bisa terpilih menjadi ketuanya.
            Nah, yang jadi masalahnya sekarang, Aa Gym sangat sulit dihubungi, apalagi ditemui. Ditambah lagi, sekarang beliau menjadi incaran banyak media massa karena belum lama ini menikah lagi dengan Teh Nini, mantan istrinya. Kami yang notabene santrinya ini, sekarang jadi agak sulit untuk menemui beliau juga. Parahnya lagi, ide acara kami untuk mengundang Aa Gym ini mendadak, padahal acaranya tiga hari lagi. Lalu bodohnya lagi, aku menyetujui usulan tersebut! Karena aku santrinya, maka jadilah aku sebagai orang yang menghubungi beliau bersama Yusuf. Mulutku sekarang merasakan akibat perkataannya.

***

            Akhirnya, kami berdua sampai di Masjid DT. Sebuah bangunan berarsitektur modern berwarna putih dengan lambang DT yang menghiasi dindingnya. Uniknya lagi, tidak ada menara di masjid ini, sehingga apabila orang sekilas melewatinya, terkadang tidak akan sadar kalau yang dilewatinya adalah masjid.
            Masjid ini dipakai oleh masyarakat umum, mulai dari mahasiswa UPI sampai para sepuh yang ada di sekitarnya yang bukan merupakan orang dalam pesantren. Maklumlah, Pesantren DT ini tidak ada pagar pembatasnya layaknya pesantren-pesantren pada umumnya. Sehinga semua orang, baik itu laki-laki maupun perempuan, dari penjahat sampai alim ulama, bisa bebas beribadah di sini. Sebuah inovasi pesantren baru yang dibuat oleh kiai kami, K.H. Abdullah Gymnastiar, alias Aa Gym.
            Berlanjut kepada tujuan kami untuk menemui beliau yang biasanya menempati ruangannya yang berada di belakang mimbar masjid. Kami sebelumnya harus melalui alur birokrasi dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) DT yang ketat. Saking sulitnya alur birokrasi tersebut, kami para santri terkadang menyebut mereka sebagai Tembok Besar Aa, yang dipimpim Kang Udin sebagai algojonya.
            Kini, kami berdua sedang berhadapan dengan Kang Udin di ruang DKM. Wajahnya yang sangar dan tubuhnya yang kekar membuat kami agak ciut. Walau begitu, aura religius terpacar dari sosoknya. Aku jadi berpikir mungkin sosok Umar bin Khatab dulu adalah sosok seperti ini.
            “Apa!? Kalian mau bertemu Aa Gym untuk meminta beliau mengisi ceramah di acara kalian yang akan diselenggarakan tiga hari lagi? Itu tak mungkin!”
            “Makanya kami ingin bertemu langsung dengan beliau, Kang.”
            “Beliau itu sudah banyak agenda! Kalian ini santri, tapi, kok, mau nyusahin kiai sendiri!”
            “Tapi, Kang….”
            “Ga da tapi-tapian! Kalian pulang sana ke asrama, cari pemateri yang lain!”
            “Hanya beliau yang bisa, Kang.”
            “Dasar kalian ini!”
            Kang Udin segera menarik kami keluar dari ruangannya. Ditariknya baju kami hingga salah satu kancing baju koko Yusuf lepas. Sosok itu memang sudah lama tersiar keangkerannya, dan sekarang kami menjadi salah satu korbannya. Masa dia tega dengan kami yang tampangnya sudah hampir dua tahun sering berkeliaran di masjid ini.
            “Jangan pernah balik lagi ke sini, kecuali untuk solat dan ngaji!”
            Kang Udin merebahkan kami berdua tepat di depan trotoar halaman masjid yang tepat berada di pinggir jalan raya. Ditatapnya kami dengan mata yang mengintimidasi, lalu kemudian ditinggalkannya kami berdua tanpa perasaan bersalah. Tak ayal kejadian kami ini menjadi tontonan umum dan membuat para pejalan kaki keheranan, bahkan ada yang tersenyum. Namun, hal ini tidak akan membuat semangatku dan Yusuf turun. Kami belum menyerah!
            “Bagaimana kalau kita menyusup ke ruang Aa secara diam-diam, Suf?” pikiran nyeleneh-ku tiba-tiba muncul.
            “Hei, itu tidak baik, Mad!”
            “Kalau begitu kamu tahu bagaimana cara kita bisa menemui Aa selain dengan hal itu?”
            “…, aku tak tahu, Mad.”
            “Ya sudah kalau begitu, kamu dengarkan dulu ideku.”
            Aku punya ide memanfaat salah satu program santri yang ada di Pesantren ini, yaitu santri tahfidz (penghafal Qur’an) yang bebas keluar masuk masjid dan bergerak ke seluruh bagian masjid karena selain menghafal, mereka juga bertugas membantu DKM dalam membersihkan masjid. Rencananya, kami akan menyusup dengan menyamar menjadi mereka dengan meminjam syal biru tua penanda program tahfidz dan jaket hitam yang menjadi ciri khas mereka. Dengan begitu, aku yakin para DKM tidak akan mudah mengira kalau ada penyusup masuk. Untungnya aku kenal beberapa santri tahfidz tersebut.
           
***

            Aku dan Yusuf kini sudah memakai pelengkapan penyusupan kami. Jaket hitam berbalut syal biru tua di kerahnya. Tidak lupa pula kami meminjam kopiah dan peci yang biasanya dipakai mereka agar kami semakin sulit dikenali.
            Sekarang saatnya kami beraksi! Aku memimpin Yusuf melangkah memasuki ruang DKM yang menjadi gerbang pertama untuk sampai ke ruangan Aa Gym. Jantung kami berdegup kencang karena tahu ruang DKM ini adalah ruang yang biasanya dijaga langsung oleh Kang Udin, algojo Tembok Besar Aa tadi. Aku melirik ke arah meja yang biasa dipakai Kang Udin bertugas. Alhamdulillah, dia sedang tidak ada! Hanya ada beberapa anggota DKM di ruangan itu yang berhasil kami kelabui.
            Kami akhirnya berhasil melewati gerbang pertama, kini kami harus melewati lorong masjid yang menjadi jalan menuju ruangan Aa. Lorong yang cukup gelap karena tidak ada cahaya matahari langsung yang masuk, sehingga kami hanya bisa melihat cahaya dari ujung lorong tersebut. Selain itu, lorong ini lumayan panjang dengan ujung yang berbelok ke arah kiri. Langkah kaki kami bergema di dinding-dinding lorong yang berbayang redup. ‘Tap…tap…tap…tap…’. Tiba-tiba ada suara langkah yang datang dari depan kami! Dari arah belokan ujung lorong ini. Semoga itu bukan Kang Udin!
            Sosok itu mulai menampakkan dirinya dari belokan lororng tersebut. Perlahan terlihat sosok orang yang berbadan besar dan berkulit gelap. Walaupun aku tidak bisa melihatnya secara jelas, tapi aku yakin kalau itu Kang Udin! Kami berdua bingung harus bagaimana. Mau kembali sudah tanggung, tapi kalau terus kami akan kembali dihajar oleh algojo itu! Bagaimana ini!? Aku berpikir keras.
            Kang Udin berjalan semakin mendekati kami. Beberapa langkah lagi dia akan berpas-pasan dengan sosok kami. Degup jantung kami sampai terdengar jelas ditelingaku. Ini gawat! Sosok itu sekarang berada tepat di depan kami lalu berhenti.
            “Assalamualaikum, Syahril. Kamu mau kemana?”
            Syahril? Ternyata Kang Udin mengira aku adalah santri tahfidz yang aku pinjam pakaiannya ini. Kebetulan, perwakan tubuh Syahril memang hampir mirip denganku, dari badannya yang kurus sampai cara berjalannya. Aku berhasil mengelabui Kang Udin! Penyamaranku sukses! Malah sekarang dia menyodorkan tangannya kepadaku untuk bersalaman.
            “Waalaikumussalam, Kang Udin. Saya mau ke depan sana,” jawabku dengan suara yang agak kuserak-serakkan sambil menunjukkan jempol ke arah ujung lorong. Aku juga lebih memilih menundukkan kepalaku menghindari Kang Udin melihat wajahku. Begitu juga Yusuf di belakangku yang tampaknya belum dipedulikannya.
            “Kok, suaramu serak, Ril? Lagi sakit? Pantas tanganmu ini dingin dan basah banget. Keringatan terus, ya? Semoga kamu lekas sembuh.”
            Itu keringat karena kedatanganmu, Kang Udin! Keringatku memang terus mengalir dari saat melakukan penyamaran ini, apalagi ketika Kang Udin datang, banjir. Tapi sejujurnya aku agak kaget juga kali ini, tak kusangka ternyata dia baik dan perhatian juga orangnya. Coba kamu tadi seperti ini, Kang, mungkin kami tidak akan senekat ini.
            “Oh iya, Ril. Kamu lihat kacamata Akang, tidak? Akang lupa tadi nyimpannya di mana.”
            “Ti…tidak, Kang. Maaf.”
            Rupanya kami tidak ketahuan ini selain karena lorong ini cukup gelap untuk bisa melihat dengan jelas dan perawakanku yang mirip dengan salah satu santri tahfidz, ternyata Kang Udin juga sedang tidak memakai kacamatanya. Alhamdulillah, Allah kembali menolong kami yang bersungguh-sungguh ini.
            “Ok, terima kasih, Ril.”
            Sosok Kang Udin pergi menjauh meninggalkan kami berdua. Aku sekilas melihat beliau tampak merasa curiga ketika menyalami Yusuf karena Yusuf sama sekali tidak bicara. Untungnya, kali ini dia tampak tidak mau ambil pusing.
            Akhirnya, kami berdua akan sampai ke ruangan Aa setelah menaiki tangga yang ada di ujung belokan lorong ini. Kami harus cepat sebelum Kang Udin menyadari penyusupan kami ini ketika bertemu Syahril yang asli yang juga sedang berada di masjid ini. Tangga tersebut kami naiki dengan agak cepat, lalu tibalah kami di ruangan kiai pesantren kami.
            Kebetulan sekali pintu ruangan tersebut terbuka, sehingga kami langsung masuk ke dalamnya. Ruangan kiai kami ini tidak begitu besar, hanya ada beberapa lemari yang penuh dengan buku, satu tempat tidur, dan meja dengan beberapa kursi di sampingnya yang tampaknya dipakai untuk Aa bekerja dan menerima tamu. Di meja tersebut kami melihat beliau sedang menulis sesuatu dengan khusyuk di mejanya.
            “Assalamualaikum, Aa.”
            “Waalaikumussalam. Oh, ada santri tahfidz. Ada perlu sama Aa?”
            Alhamdulillah, kami disambut baik dengan beliau. Biasanya kiai kami ini terkenal dengan ketegasan, jadi aku pikir kami akan dinasehatinya karena tiba-tiba saja masuk ke kamarnya.
            “Maaf Aa tidak tahu ada kalian masuk. Aa tadi sedang konsentrasi menulis untuk buku terbaru Aa nanti.”
            “Kami yang seharusnya minta maaf, Aa. Kami yang sudah lancang masuk ke ruangan Aa dan mengacaukan konsentrasi Aa,” Yusuf mulai beraksi dengan kemampuan bicaranya.
            “Aa, kami boleh minta tolong sesuatu?”
            “Ya, kalau Aa bisa bantu, ya Aa bantu,” beliau tersenyum.
            “Sebelumnya kami ingin memberitahu dulu kalau kami bukan santri tahfidz, melainkan santri PPM.”
            “Lho? Kok, bisa? Pasti gara-gara Udin, ya?” beliau berusaha menahan tawanya.
            “Iya, Aa. Kami tadi dilarang olehnya untuk bertemu Aa.”
            “Terus kalian mau minta tolong apa?”
            “Kami mau meminta Aa untuk mengisi ceramah di acara LDK kami di kampus UPI. Acaranya Sabtu malam, tiga hari lagi, tapi Aa bisa, kan?” aku langsung menyerobot Yusuf yang ingin berbicara. Aku ini memang orang yang kurang sabaran.
            “Siapa namamu, Nak?” beliau balik bertanya ke arahku.
            “Ahmad, Aa.”
            “Semangatmu bagus, namamu juga bagus. Nama kecil baginda Rasullullah Muhammad Saw ketika kecil. Kamu pasti tahu, kan, kalau Aa ini sudah ada banyak agenda? Tiga hari itu waktu yang terlalu mepet buat Aa.”
            “Jadi, Aa?” aku mulai putus asa.
            “Sebelumnya Aa mau tanya dulu, kenapa kalian walau sudah tahu hal ini hampir mustahil tetap nekat datang ke sini?”
            “Kan, Aa sering berkata selama kita belum ikhtiar dan berusaha maksimal kita belum tahu hasilnya. Terus yang mengatur takdir itu Allah, kalau Dia berkata jadi, maka jadilah.”
            “Kun fa yakun,” timpal Yusuf.
            “Jadi kami percaya selama kami beriman dan ber-tauhid kepada Allah, Dia akan memberi limpahan rahmatnya selama dilandasi dengan niat dan tujuan yang baik.”
            Tak kusangka aku bisa menjawab pertanyaan Aa ini dengan jawaban seperti ini. Ternyata ikhwan nyeleneh sepertiku ini bisa mengeluarkan untaian kata seperti yang biasa dikatan beliau.
            “Kamu benar, Nak. Takdir Allah, hari Sabtu malam Aa memang sedang ada waktu kosong. Jadi tampaknya Aa bisa mengisi di acara kalian,” Aa tersenyum.
            “Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Aa!”
            Aku dan Yusuf senangnya bukan kepalang. Kami berdua bersujud syukur kepada Allah di hadapan kiai kami tersebut. Benar kata salah satu pepatah Arab yang kami pernah pelajari, man jadda wajadda! Siapa yang sungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya! Tentunya selama ia berserah diri kepada Allah.
            “Ingat, barangsiapa yang ber-tauhid, Allah akan selalu membimbingnya. Lakukan apa pun itu berlandaskan tauhid tersebut.”
            “InsyaAllah, Aa.”
            Kami dapat banyak pelajan hari ini, yang semakin meneguhkan keimanan dan tauhid kami. Membuat kami semakin yakin selama berjuang di jalan-Nya, pasti akan terus ada jalan-Nya. Sebuah esensi nilai yang kami temukan di pesantren ini, Daarut Tauhid.
            Namun, tampaknya kami melupakan seseorang. Sosok tersebut kini sudah menunggui kami di luar ruangan Aa. Sosok berwajah sangar yang telah menemukan kacamatanya.

Catatan
* ikhwan = sebutan untuk lelaki muslim, sekarang ini diidentikkan dengan lekaki yang memakai baju muslim ke mana-mana.
* akhwat = sebutan untuk perempuan muslimah, sekarang ini diidentikkan dengan perempuan yang memakai baju muslim (gamis atau baju dan rok yang lebar) ke mana-mana.

--------------------------------------------------------------------
cerpen yang gagal tembus lomba... ya sudah saya posting aja... hehehe

11 komentar:

menarik...
cukup terbawa alur cerita :)

ceritanya ngalir banget, dan tentunya banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil..
syukran..

Kang, ini kisah nyata atau fiktif? maaf sebelumnya :D tapi menurut saya sepertinya kisah nyata. saya bertanya seperti ini karena ada hal yang ingin ditanyakan.

Ini fiktif... Tapi latar yang diambil berdasarkan kanyataan, Teh Riska Sartika... :)
Memangnya teteh mau bertanya tentang apa?

Sangat menikmati cerita ini bagus dan menambah keimanan tentang niat baik dan bersungguh sungguh terimakasih.

A masih di dt?
mau nya info biaya smk dt?
agak besar ya?

Posting Komentar