Sabtu, 31 Mei 2014

Antara "Bersatu" dan "Bersama"




Saya sangat berharap umat muslim bisa bersatu. Hanya saja, kata "bersatu" tampaknya bukanlah kata yang tepat untuk dipaksakan pada saat ini. Saya tetap memilih kata "bersama". Mengapa? Karena saya sangat ingin melihat indahnya kebersamaan umat Islam dahulu, bukan kebersatuan yang dipaksakan.
Dalam KBBI, kata bersatu bisa berarti (1) berkumpul atau bergabung menjadi satu; menjadi satu: bangsa-bangsa Asia Tenggara - dl ASEAN; (2) sepakat; seia sekata: - kita teguh bercerai kita runtuh. Sementara itu kata bersama dapat berarti (1) berbareng; serentak: kami berangkat - ke sekolah; (2) semua; sekalian: kewajiban itu telah dibebankan kpd kita -; (3) seiring dng: - surat ini, kami sampaikan seberkas laporan tahunan perusahaan.
Menurut saya, kedua kata ini kurang tepat apabila disamakan konsepnya. "Satu" yang merupakan kata dasar dari "bersatu" umumnya berarti "tidak ada yang lain selain itu". Contohnya, Allah hanya "satu" dan tak ada Tuhan lain selain-Nya. "Satu" juga dapat diartikan sebagai suatu kepaduan yang cenderung berujung kepada penggabungan.
Sayangnya, dalam konteks ukhuwah yang terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda, kata "satu" umumnya lebih mewakili akidah saja. Dalam pemahaman -terutama hal-hal yang sifatnya furu, kita sulit untuk memaksanya agar "satu" sehingga kata "bersama" dan "seirama" menjadi kata yang tepat untuk ukhuwah.
Dengan "bersama", tentu tidaklah menghalangi kita bisa bergerak dengan satu tujuan. Namun, jika kita memakai konsep "bersatu", apakah hal itu bisa dipaksakan di dalam masyarakat yang kian heterogen ini?
Saya pribadi yakin suatu saat nanti pasti bisa. Dengan catatan, marilah kita "bersama" dahulu untuk saling memahami. Kemudian, baru kita bisa "bersatu" ketika sudah saling mengerti.
"Bersatu" dengan cara memaksakan kehendak salah satu golongan karena mengganggap bahwa pemahamannyalah yang paling benar bukanlah suatu yang tepat. Dalih "Seandainya semua orang bisa sama dengan pemahaman yang kami yakini benar ini" malah akan menjadi penyebab perpecahan. Hal inilah yang sering membuat umat Islam, jangankan "bersatu", "bersama" pun tak mampu.
Selama akidah masih satu, seharusnya ukhuwah tak perlu dipaksakan untuk satu pemahaman. Begitu menurut saya.

"Pelangi itu indah bukan karena warnanya bersatu, tapi karena warnanya bersama. Begitu pula ukhuwah, ia tak harus satu, tapi cukup bersama dan seirama."
(Yansa El-Qarni)

Wallahu 'alam.

0 komentar:

Posting Komentar