Sabtu, 26 September 2015

Menulis Karya Antimainstream


Gambar: kartikoputra.blogspot.com
Bicara tentang antimainstream, saya ingin memulainya dengan sebuah analogi. Bila ada sebuah sungai besar, tentunya ia memiliki arus utama yang menuju ke laut. Arus yang menuju ke laut itu bisa kita sebut sebagai mainstream-nya. Lalu, jika ada arus lain yang melawan arus utama tersebut, itulah yang dapat disebut antimainstream-nya. Tentunya, jika kita ingin menjadi antimainstream seperti yang dideskripsikan  tersebut, jelas bukan pekerjaan yang mudah.
Namun, menurut saya, menjadi antimainstream tidak harus seperti itu. Tidaklah selalu harus melawan arus utama yang bisa jadi alirannya sangat kuat. Dengan kuat alirannya tersebut, tak jarang malah pihak yang melawannya akan menjadi korban. Maka dari itu, bagi saya, menjadi antimainstream boleh saja kita mengikuti arus utama jika melawan arus terasa begitu sulit. Tetapi ada hal penting yang perlu dicatat, yaitu bagaimana cara kita mengikuti arus tersebut.
Dalam hal karya tulis, novel Dilan dapat menjadi contohnya. Pidi Baiq, penulis novel tersebut pernah mengungkapkan kalau Dilan itu sebenarnya adalah novel teenlit, namun diramunya dengan gaya tulisan ala sastra “serius”. Di tengah-tengah maraknya teenlit, beliau membuat tulisan teenlit dengan rasa yang berbeda dengan biasanya. Setidaknya, seperti itulah yang saya pahami ketika bertemu beliau di salah satu kesempatan di Educafe, di jalan Kota Bandung. Menurut saya, novel Dilan tersebut merupakan contoh antimainstream yang tidak melawan arus, tetapi mengikuti arus yang ada. Namun, ketika mengikuti arus tersebut, ia membuat aliran yang berbeda untuk arus yang diikutinya. Mungkin, inilah yang membuat buku Dilan laku dipasaran karena para remaja penikmat teenlit juga dapat menyukai buku tersebut.

Resep Menulis Karya Antimainstream
Ada dua tipe tulisan antimainstream menurut saya, yaitu antimainstream dalam isi dan antimainstream dalam kemasan. Antimainstream dalam isi umumnya dapat dilihat dari orisinalitas gagasan yang diwacanakan dalam tulisan. Gagasan tulisan tidaklah sama dengan gagasan yang umumnya dikenal oleh kebanyakan orang. Misalnya novel Shaman karya Ayu Utami, ia menggangkat isu feminisme dalam novelnya yang saat itu masih jarang diangkat.
Lain halnya dengan antimainstream dalam kemasan, kebanyakan isinya mungkin sudah sering dan banyak diangkat di berbagai tulisan. Namun, dengan kemasan yang bagus dan berbeda dari keumuman, ia dapat menarik perhatian pembacanya. Contoh tipe antimainstream ini seperti buku Udah Putusin Aja! karya Felix Siauw. Buku yang mengangkat tema tentang tidak ada pacaran dalam Islam sebenarnya sudah cukup sering diangkat, seperti Pacaran Setelah Pernikahan-nya Salim A Fillah, dsb. Namun, pada buku Udah Putusin Aja!, penyampaiannya dikemas dengan berbagai ilustrasi dan grafis yang menarik.
Kemudian, untuk resep menulis tulisan antimainstream, untuk saat ini saya baru bisa memberi resep ATM. Amati, Tiru, Modifikasi! Ini merupakan resep yang manjur, namun harus ditambah kepekaan dalam berpikir out of the box. Misalnya, ketika banyak tulisan yang menulis tentang indahnya pernikahan, maka buatlah tulisan indahnya menjomlo.

*Tulisan ini dibuat dadakan sebagai materi diskusi online grup KPKers Baraya, 26 September 2015
*Silakan kita lanjutkan wacananya lewat diskusi di grup fb KPKers Baraya https://www.facebook.com/groups/kpkersbdgcmhkbb/1686262034921425/?notif_t=group_comment_follow

0 komentar:

Posting Komentar