Sabtu, 26 September 2015

Aku Berpikir Maka Tuhan Ada


Gambar: Twitter.com

“Aku berpikir maka aku ada.” (Descartes)

Kalimat yang diutarakan filsuf kenamaan dari Perancis ini kerap menjadi rujukan orang-orang yang mencoba berpikir filosofis, terutama terkait dengan bagaimana memaknai kehidupannya. Di masa sekarang, berpikir kritis dengan memakai logika dan bukti-bukti dalam bentuk yang rill sudah menjadi tradisi ilmiah di kalangan saintis untuk menyikapi rahasia kehidupan. Sayangnya, proses berpikir tersebut kian sekuler sehingga banyak yang tidak menemukan adanya pihak yang Maha Kuasa di balik apa yang sedang mereka sibak.
Padahal dalam proses berpikir itulah seharusnya dapat ditemukan hal-hal yang membuktikan keberadaan Tuhan. Sosok yang mengatur segalanya yang pada hakikatnya takkan dapat ditemukan hanya dari kacamata ilmu sains saja, namun harus bersinkronisasi dengan kacamata agama. Dengan kacamata yang tergabungkan ini, maka akan terlihat jelas bahwa semua hal yang ditemukan dan dipikirkan bersumber pada suatu hal yang bersifat gaib, yang merupakan tanda-tanda-Nya.
Tuhan merupakan sumber kebenaran dari kehidupan yang dicari oleh manusia. Semakin manusia berusaha membuktikan ketidakberadaan-Nya, semakin pula manusia membuktikan keberadaan-Nya karena ketidakberdayaan manusia menghadapi kenyataan bahwa apa yang dicarinya kian tak berujung. Pada ketidakberujungan pencarian dan ketidakberdayaaan manusia itulah terdapat kuasa Tuhan yang sebenarnya sedang membimbing manusia untuk mengenal-Nya. Dengan mengenal-Nya, manusia akan mengetahui apa yang dicari dalam kehidupannya. Agamalah yang menjadi tuntunan terhadap hal tersebut.
Dalam Islam, kata “berpikir” sering kali diungkapkan di ayat-ayat Alquran yang menjadi pedoman untuk umatnya. Setidaknya, terdapat lebih dari dua belas ayat yang memerintahkan manusia untuk berpikir dalam mengenalnya.
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Al-Jatsiyah [45]: 13)
Pada ayat-ayat tersebut, Allah mengajarkan manusia untuk berpikir agar semakin dapat menemukan keberadaan-Nya (mengenal-Nya).
Kalimat “Aku berpikir maka Tuhan ada” yang terdapat di judul tulisan ini, bukan dimaksud bahwa Tuhan baru muncul keberadaannya setelah manusia berpikir. Namun, pada hakikatnya Tuhan itu ada, namun manusia baru akan menemukan keberadaan-Nya ketika ia mencoba untuk berpikir.
Sama halnya perkataan Descartes, “Aku berpikir maka aku ada”, bukan berarti secara wujud manusianya ia (Descrates) tidak ada sebelum ia berpikir. Namun, yang dimaksudkan dengan “ada” itu adalah ia menyadari keberadaan tentang hakikat diri seutuhnya. Begitu pula saat bicara tentang Tuhan, keberadaan-Nya yang seutuhnya akan ditemukan oleh manusia apabila ia mencoba untuk berpikir. Tak hanya berpikir dengan logika saja, namun juga dengan perasaan dan mata hati. Pada hakikatnya, baik logika maupun perasaan diproses dalam otak yang menandakan keduanya tercipta dalam proses yang disebut “berpikir”. Wallahu alam.


Penulis: Eko Apriansyah a.k.a. Yansa El-Qarni
*Tulisan ini merupakan tugas kuliah Sekolah Pemikiran Islam ITJ Angkatan 1


0 komentar:

Posting Komentar