Jumat, 25 September 2015

Akidah: Benteng Ghazwul Fikri


Sumber foto: votreespirit.wordpress.com
Ghazwul fikri atau perang pemikiran kerap menjadi momok kaum muslim. Banyak kaum muslim yang takut, bahkan parno terhadap wacana tersebut. Di sisi lain, terdapat pula mereka yang tak peduli sehingga tak terkalahkan dengan mudahnya dalam peperangan nyata namun tak terlihat secara langsung ini.
Ghazwul fikri ini umumnya diterjemahkan sebagai peperangan pemikiran, dapat berupa adu pendapat, filsafat, dan sebagainya. Namun, secara khusus, ghazwul fikri diartikan sebagai perang pengaruh yang dilakukan pihak Barat kepada kaum muslimin. Inilah yang dinilai menjadi momok tersebut. Pengaruh ini dapat berupa pola dan gaya hidup, pemikiran-pemikiran liberal, dan sebagainya yang menjauhkan muslim dari agamanya.
Barat sudah menyebarkan pengaruhnya ini sejak lama dan tersusun secara sistematis. Begitu banyak cara dan media yang digunakan pihak Barat untuk menyebarkan pengaruhnya, sebut saja melalui media massa dan teknologi yang sebagian besar dikuasainya. Dengan perantara kedua hal tersebut saja, kebanyakan umat Islam sendiri telah terpengaruh dengan cara berpikir Barat yang kian menjauhkan mereka dari agamanya.
Di sisi lain, ghazwul fikri ini seharusnya bukan menjadi momok yang perlu ditakuti umat muslim. Pada dasarnya, Islam telah mengajarkan umatnya cara membentengi diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran yang tidak baik. Benteng inilah yang dinamakan sebagai konsep akidah.
Saat seorang muslim berhadapan dengan pemikiran-pemikiran dari Barat yang cenderung menampikkan keberadaan Tuhan ataupun mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, ia bisa menyaringnya dengan baik apabila memiliki akidah yang kuat. Akidah islamiyah mengajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Jadi, bukan suatu hal yang harus lebih dipentingkan daripada kehidupan akhirat. Ketika ada hal-hal yang tak baik atau maksiat, ia tahu bahwa Allah selalu mengawasinya sehingga menghidari hal tersebut.
Sayangnya, tidak semua kaum muslimin memiliki benteng akidah yang kuat. Jadi, ketika mereka berhadapan dengan ghazwul fikri, banyak dari mereka malah merobohkan benteng yang ada dalam dirinya, bukannya melawan balik serangan dari lawannya.
Lalu, bagaimana agar kaum muslimin bisa mengatasinya? Pendidikan akidah sedari kecil adalah salah satu jawabannya. Ini merupakan kunci awal dalam memperkuat benteng akidah hingga siap berhadapan dengan ghazwul fikri, sebuah pertempuran yang sudah tak dapat dihindari lagi. Sasaran yang paling mudah diserang ghazwul fikri ini adalah anak-anak dan remaja yang pada dasarnya mudah mengikuti apa-apa yang mereka baru ketahui. Dengan pendidikan akidah sedari kecil, ghazwul fikri Barat tidak akan memiliki daya serang lagi.

Penulis: Eko Apriansyah a.k.a. Yansa El-Qarni
*Tulisan ini merupakan tugas kuliah Sekolah Pemikiran Islam ITJ Angkatan 1

0 komentar:

Posting Komentar