Selasa, 25 Desember 2012

Kiamat dalam Perspektif NU (Bag. I)

            Sebagai bagian dari Diskusi Tafsir Ilmiah tematik tentang kiamat, YPM Salman ITB mengundang sejumlah pakar perwakilan ormas dan kelompok Islam. Mereka diundang untuk menyajikan pandangan ormas/kelompoknya masing-masing mengenai dalil-dalil seputar kiamat. Hasil pemaparan mereka selanjutnya akan dikaji, dipilah dan disimpulkan oleh Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, sebagai bagian naskah tafsir ilmiah tentang Hari Kiamat.
            Pada Misykat edisi 90 dan 91, pemaparan yang dimuat adalah perspektif ormas NU (Nahdatul Ulama) yang diwakili oleh resume pemaparan K.H. Thontowi Djauhary Musaddad, pengasuh pondok Pesantren Al-Wasilah, Garut pada Senin, 12 November 2012 (dengan penyuntingan seperlunya).

Membaca Policy di Balik Sistem-Nya
Dalam Islam, membaca hukum agama tidaklah terlalu sulit karena adanya mazhab, pola pikir, dan kitab yang membimbing untuk memahaminya. Hal yang lebih sulit daripada membaca hukum tersebut adalah membaca sistem yang dibuat Allah untuk dunia nyata. Analoginya, ketika seseorang ingin bekerja menjadi profesi tertentu, melakukan transfer uang dan sebagainya, tentunya akan memerlukan suatu sistem. Begitupun Allah dalam mengatur alam. Menemukan sistem yang dibuat Allah tersebut dalam mengatur alam bukanlah perkara mudah, walaupun sistem ini sudah tersirat dalam Alquran.

Misalnya, dinyatakan bahwa alam tidak hanya satu, tetapi ada alam nyata dan alam gaib. Allah menyatakan, Wa lillahi junudus samawati wal ardh, bahwa ia mempunyai pasukan yang manusia tidak ketahui. Hal ini secara tak langsung menunjukkan bahwa ada berlapis-lapis sistem yang dibuat oleh Allah.
Dari sistem tersebutlah, kemudian akan terbaca sebuah policy. Seperti ketika seseorang membaca undang-undang, tentunya tidak akan ada kalimat “kepentingan kapitalisme” di dalamnya. Akan tetapi, bagi seorang pengamat yang jeli, undang-undang tersebut dapat dikatakan jelas mengarah ke kapitalisme atau monopolistik, dengan memahami konteks yang dijabarkannya. Dari pemahanan akan sistem yang diterapkan oleh Allah, maka akan terlihat policy-Nya, mengarah kemana, apa yang dikehendaki-Nya. Inilah hal yang paling sulit.
Sangat sedikit orang yang mampu “melihat” arah policy-Nya ini. Rasulullah bersabda, Ittaquu firosatal mu'min, fa-innahu yanzhuru bi nuurillah (Waspadalah dengan firasat orang beriman, sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah). Orang-orang yang disebut hadits inilah yang mengerti akan policy tersebut. Sayangnya, terkadang manusia hanya melihat dari hal-hal yang jelas saja seperti logika, angka, dsb. Berbeda dengan orang-orang yang melihat dengan cahaya Ilahi. Saat orang lain belum mengerti, mereka sudah terlebih dahulu mengerti. Apabila orang lain baru percaya setelah dibuktikan secara ilmiah, mereka tidak perlu menunggu pembuktian tersebut.

Lewatnya Ambang Batas
Dengan perspektif sistem dan policy yang disinggung di atas, terjadinya kiamat dapat dipandang sebagai sebuah fase/tahapan yang diciptakan Allah Swt. dalam kerangka sistem yang lebih besar yaitu sistem “kehidupan”.
Kiamat adalah fase yang memisahkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat atau kehidupan sementara dengan kehidupan abadi. Apabila kematian seorang adalah salah satu fase bagi kehidupan dirinya, maka Hari Kiamat adalah fase bagi kehidupan seluruh alam ini. Mereka yang telah mati ratusan ribu tahun yang lalu, juga menunggu fase Kiamat ini. Sedangkan mereka yang hidup saat kiamat terjadi, akan menerima secara langsung fase tersebut tanpa harus menunggu.
Sebelumnya, telah disampaikan bahwa membaca sistem yang dibuat Allah adalah hal yang sulit. Salah satu jenis sistem yang sulit dibaca tersebut adalah sistem yang memudahkan manusia memahami mengapa suatu hal bisa terjadi. Seperti dalam tanda-tanda kiamat, di dalamnya terdapat fenomena alam (banyaknya bencna alam, gempa bumi, dsb) dan fenomena sosial (degradasi moral, semakin banyaknya wanita daripada pria, dsb), yang sifatnya untuk memudahkan membaca kapan kiamat akan terjadi.
Selain itu, ada juga petunjuk-petunjuk Allah lainnya yang memudahkan manusia memahami bagaimana kiamat terjadi. Misalnya dalam surat Al-Zalzalah, dinyatakan bahwa nanti ketika kiamat, bumi akan berbicara. Para sahabat ketika itu tercengan membaca ayat ini. Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apa yang akan dibicarakan bumi?”. Beliau menjawab, “Kalian berbuat baik atau jelek di muka bumi. Ketika kalian berbuat hal tersebut, maka bumi akan merekamnya.”
Di sebuah hadits juga dinyatakan, ketika seseorang berbuat baik, apabila ia berpendengaran tajam, maka ia akan mendengar suara dari bumi, “Terima kasih, aku telah dipakai untuk beribadah. Kelak, bila engkau masuk ke dalam perutku, aku akan rayakan kedatanganmu karena telah membuatku beribadah kepada Tuhan”. Sebaliknya, apabila bumi dipakai maksiat, bumi akan marah. Magma bumi, binatang melata, dan sebagainya akan masuk ke dalam kuburan orang tersebut.
Artinya, bumi akan merekam segala aktivitas manusia selama hidupnya. Semua komponen bumilah yang akan menjadi alat perekamnya. Manusia saja dapat memanfaatkan apa-apa aja yang datang dari bumi, lalu menciptakan teknologi dari hukum alamnya. Apalagi Sang Penciptanya, tentunya mampu berbuat lebih dari daripada itu.
Manusia apabila direkam kamera, kadang ia tak menyadari keberadaan kamera tersebut. Allah, dalam mengatur sistemnya, membuat agar manusia tak bisa mengelak. Innahu 'ala kulli syaiin syahid, (“Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan”). Jadi, Allah memasang kamera yang begitu banyak.untuk mengawasi manusia. Ada Allah yang menyorot langsung, kemudian para malaikat yang memperhatikan, Roqib dan Atid yang mencatat perbuatan manusia, bahkan tangan dan kaki manusia sendiri pun akan berbicara di hari akhir nanti sebagai saksi. Rasulullah juga menegaskan bahwa salah satu tugasnya adalah meyakinkan manusia tentang kebenaran pengawasan tersebut.
Lantas apa kaitan sistem perekam ini dengan Kiamat?
Tadi telah disebutkan bahwa bumi itu merekam segala aktivitas manusia. Dalam merekam aktivitas-aktivitas tersebut, bumi memiliki standar toleransi.
Batas toleransi ini bisa diumpamakan sebagai berikut. Ketika seseorang mengisi tabung gas yang batas maksimalnya 10 liter, ketika dipaksa sampai angka 20, tentunya tabung gas tersebut akan meledak. Makanya, dalam kalimat tanda-tanda kiamat, kiamat akan terjadi saat dunia sudah dipenuhi zina, riba, dan hal-hal buruk lainnya.
Perumpamaan lagi, seandainya di Bandung para pedagangnya 60 % lebih melakukan kecurangan, maka bandung akan “meledak”! Entah itu dalam artian terjadinya banjir, atau gempa, atau bencana lainnya.
Atau jika remaja di Bandung yang usianya 12 tahun sebanyak 50 % telah melakukan hubungan intim sebelum menikah, maka bumi juga akan “meledak”. Jika para dokter banyak yang memeras pasiennya hingga melebihi sekian persen, maka bumi juga akan “meledak”. Jika para penguasa yang melakukan keburukan melebihi sekian persen, maka bumi akan “meledak” pula.
Itulah beberapa contoh akumulasi kerusakan yang tidak bisa lagi ditoleransi bumi karena melebihi ambang batas kemampuannya. Makanya, sebuah negeri akan mendapat musibah jika masyarakatnya melebihi batas sebagaimana yang digambarkan di atas.
Musibah atau bencana adalah akibat overload-nya sistem bumi yang telah melampui batas toleransinya merekam dosa manusia, sehingga menyebabkannya meledak. Banyak hadits juga yang membicarakan tentang hal tersebut.


artikel diterbitkan di Buletin Misykat edisi 90, Jumat 23 Muharram 1434 H/07 Desember 2012 M
(ditranskrip oleh Eko Apriansyah)

0 komentar:

Posting Komentar