Senin, 24 Desember 2012

Mengikrar Ulang Sumpah Pemuda



Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

            Sumpah pemuda kini menjadi suatu ironi di Indonesia. Poin-poin yang disematkan pada tanggal 28 Oktober delapan puluh empat tahun yang lalu kian memudar dalam diri pemuda Indonesia. Sikap hedonis, skeptis, hingga apatis telah menjadi momok bagi sikap nasionalis dan kritis yang harusnya dimiliki oleh sosok pemuda.

            Hal ini salah satunya disebabkan oleh perkembangan teknologi dan era globalisasi yang merupakan suatu yang tak bisa disingkirkan dari kehidupan pemuda sekarang. Pola hidup yang serba instan dan masuknya budaya-budaya asing menjadikan banyak pemuda salah tafsir tentang apa yang seharusnya mereka lakukan menghadapi hidup. Bukannya menghadang hal-hal negatif yang ditimbulkan hal tersebut, tapi mayoritas malah mengambilnya sebagai acuan tindakan dan perilaku mereka.
            Apakah hal ini yang diinginkan dari sumpah pemuda? Sudah tentu tidak! Apabila kita kaji dari sisi sumpah yang pernah diikrarkan oleh para tokoh pemuda dahulu, sumpah itu merupakan tekad mereka untuk membangun Indonesia lebih baik, mengangkat harkat dan martabat hidup orang pribumi, sebagai bukti pergerakan para pemuda membela bangsa. Terlebihnya lagi, saat itu status Indonesia masih merupakan daerah jajahan kaum kolonial.
Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, sudah seharusnya kita mengevaluasi bagaimana perkembangan semangat Sumpah Pemuda yang diwarisi oleh para pendahulu. Pertama, bagaimana rasa cinta tanah air kita? Berkaca pada fenomena-fenomena yang marak terjadi sekarang, korupsi yang merajalela, para pemimpin yang hanya memikirkan keuntungan pribadi, hingga rakyat yang bersikap apatis terhadap kebijakan pemerintah, apakah ini bentuk cinta tanah air? Pastinya tidak. Apabila kita sebagai pemuda tidak merasa gregetan untuk mengubahnya, bisa jadi semangat sumpah pemuda di dalam diri kita perlu dipertanyakan.
Selain hal di atas, ada lagi fenomena para pemuda yang belajar di luar negeri yang enggan kembali ke Indonesia merupakan salah satu bukti semakin memudarnya rasa cinta tanah air. Ya, hal ini memang disebabkan banyak faktor, dari mulai ketidak pedulian pemerintah terhadap nasib mereka ketika kembali ke Indonesia, gaji di negeri seberang yang lebih menjamin, atau keterpaksaan karena fasilitas di Indonesia yang kurang memadai. Tapi hal ini sebenarnya kembali kepada diri mereka masing-masing, seberapa cintakah mereka untuk memajukan Indonesia? Mari kita buka lembar sejarah dahulu, bukannya banyak tokoh Indonesia yang kembali untuk memajukan Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, sebut saja contohnya Bung Hatta, wakil presiden pertama Indonesia yang pernah mengeyam pendidikan di Belanda.
            Kedua, bagaimana dengan identitas kebangsaan kita? Pemuda Indonesia kian kehilangan identitasnya. Budaya-budaya asing kini mulai merambah nilai-nilai yang hidup dalam diri mereka. Contohnya, budaya K-Pop yang sekarang sedang digandrungi oleh banyak anak muda di Indonesia. Budaya ini membuat anak muda memuja dan meniru para idolanya yang merupakan aktivis dunia hiburan yang belum tentu dapat menjadi teladan yang baik. Padahal, di Indonesia sendiri banyak tokoh-tokoh yang dapat menjadi panutan para pemuda, seperti Soe Hok Gie yang berjuang membela Indonesia walaupun dia keturunan etnis Cina.
            Ketiga, bagaimana dengan bahasa Indonesia yang seharusnya kita junjungkan? Penggunaan bahasa Indonesia kini makin banyak terjadi penyelewengan. Mulai dari bahasa-bahasa asing yang dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia, hingga bahasa alay atau bahasa slang yang sekarang kian produktif disebabkan fenomena media sosial yang digandrungi oleh anak muda sekarang. ‘Ciyus’, ‘miapah’, ‘enelan’, dan sebagainya, menjadi kata-kata yang umum digunakan oleh mereka. Dari fenomena bahasa ini, kita bisa melihat bagaimana keadaan mental para anak muda yang kembali ke dunia kanak-kanaknya.
            Momentum sumpah pemuda ini sudah seharusnya menjadi refleksi para pemuda, khususnya para anak muda, untuk mengoreksi apakah sumpah yang dahulu diikrarkan para pendahulu sudah melembaga dalam hati dan tindakan. Jangan hanya bisa menjadi para pengkritik pemerintah tanpa mengevaluasi diri. Coba tanyakan pada diri, ‘apakah nilai-nilai kepemudaan sesungguhnya telah saya laksanakan?’
            Semua memang butuh proses, tetapi itulah yang menjadi tantangan para pemuda untuk mengikrar ulang sumpah pemuda menjadi suatu yang riil demi kemajuan Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar