Minggu, 12 Februari 2012

Hidup adalah Pilihan

Hidup itu adalah pilihan, pilihan yang diberikan Allah kepada manusia. Pilihan yang selalu hadir berpasang-pasangan. Lalu manusialah yang menentukan jalan mana yang akan ditempuhnya. Ada jalan baik, tapi ada pula yang buruk. Ada jalan aman, tapi ada juga yang penuh resiko. Seperti penciptaan dunia, Allah menciptakan siang dan malam salah satunya untuk manusia mengerti hal ini.
Misalnya saja, kita diberi pilihan mau rumah tipe 21 atau tipe 36? Rumah ini diberikan secara cuma-cuma alias GRATIS! Tidak ada syarat yang macam-macam. Manakah yang akan kita pilih? Mungkin orang kebanyakan akan memilih yang tipe 36, yang jelas lebih besar dan lebih megah dibandingkan tipe 21 yang lebih kecil dan lebih sederhana.
Selanjutnya diberi pilihan lagi, apakah mau mobil baru atau mobil bekas yang diberikan cuma-cuma seperti rumah di atas? Tak perlu diragukan kebanyakan orang pasti memilih mobil baru. Kalau ditanya mau istri cantik atau biasa-biasa saja? Yah tentu jawabannya istri cantik. Dan itu menurut orang kebanyakan.
Nah, umpamanya kita anggap diri kita itu memilih seperti orang kebanyakan. Setelah kita mendapat rumah tipe 36, mobil baru, sekaligus istri yang cantik, kita baru mengetahui kalau rumah tipe 36 itu ada di tengah hutan, mobil baru itu adalah hasil curian, dan istri kita yang cantik itu ternyata telmi alias telat mikir, apa yang akan kita lakukan. Sedangkan ternyata pilihan yang sebaliknya, rumah tipe 21 itu ternyata berada di pusat kota, mobil bekasnya memang benar-benar cuma-cuma, dan istri yang biasa-biasa itu adalah istri yang pandai dan cerdas, apakah kita akan menyesalinya?
Itulah gambaran tentang pilihan dalam hidup. Pilihan yang akan menimbulkan hukum sebab akibat. Pilihan yang kadang di luar perkiraan kita. Karena memang tidak selamanya yang kita anggap bagus itu baik untuk kita. Boleh jadi setelah melihat kenyataan seperti cerita di atas kita jadi lebih ingin memiliki rumah tipe 21 yang di pusat kota dari pada rumah tipe 36 yang di tengah hutan. Mungkin yang terpikirkan kalau rumah saya ada di pusat kota, berarti hidup saya akan lebih mudah, tidak perlu bersusah mencari keperluan hidup seperti di hutan karena di kota semuanya sudah tersedia.
Tapi kita juga kita tidak tahu rahasia Allah, qodarullah, rumah yang berada di pust kota itu ternyata rawan tawuran, sedangkan yang di tengah hutan itu aman dan tentram. Jadi manakah yang lebih baik?
Pada hakikatnya semua pilihan yang diberikan Allah itu baik, cuma bagaimana kita sebagai manusia ini menyikapinya. Bisa jadi sekarang persepsi kita terhadap rumah tipe 21 yang berada di pusat kota namun rawan tawuran itu buruk. Tapi sekarang coba kita belajar menyikapinya dengan positif. Ternyata dengan keberadaan kita di sana malah membuat daerah itu jadi lebih aman karena kita adalah orang yang bisa mengendalikan situasi tersebut. Tindakan kita telah berhasil membuat persepsi yang awalnya jelek menjadi baik.
Di sanalah penting pengambilan pilihan kita yang seharusnya berdasarkan pemikiran seperti ini, “Semua manusia itu berujung pada satu hal, yaitu mati. Jadi pilihan yang harus saya ambil adalah pilihan yang nanti akan membawa saya menuju mati dalam kondisi yang baik atau khusnul khotimah.”

0 komentar:

Posting Komentar