Kamis, 09 Februari 2012

Pembelajaran dari Masa Lalu


“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pembelajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu daan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf: 111)
            Berkaca dari masa lalu, memetik hikmah dari buah kejadiannya, inilah yang disebut pembelajaran. Manusia hidup disertai dengan berbagai masalah yang mengiringinya. Masalah tersebut ada yang pernah dihadapi sebelumnya, ada pula yang belum pernah sama sekali. Penyelesaian, walau masalah tersebut pernah dihadapi, bukanlah hal yang mudah. Nyatanya banyak kejadian sama yang tetap saja tidak ditemukan penyelesaian karena gagal belajar dari masa lalu.
            Pengalaman pribadi tidaklah cukup sebagai sumber pembelajaran. Kisah-kisah orang lain juga merupakan sumber yang tak dapat digantikan. Sumber mata air yang tak pernah kering. Sumber mata air yang bisa ditemukan dimanapun.  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri bahkan pernah diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengambil pembelajaran dari kisah para nabi dan rasul sebelumnya seperti yang tertera di ayat surat Yusuf tadi. Ini pertanda bahwasanya dalam kisah-kisah masa lalu itu terdapat petunjuk orang-orang yang memikirkannya.
            Tokoh proklamator Indonesia, Ir. Soekarno, juga pernah berkata “jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau yang biasa disingkat JAS MERAH. Benar yang dikatakan beliau karena sejarah atau masa lalu merupakan gudang perbaikan menuju masa depan yang lebih baik. Tak ada orang yang sukses tanpa menghargai dan mempelajari sejarah masa lalu yang ada. Barangsiapa yang masa lalunya dijadikan guru, niscaya ia akan mudah menapaki langkahnya ke depan.
            Aliran waktu yang melaju tanpa pernah kembali menandakan masa lalu adalah suatu yang sudah terjadi dan mustahil diubah. Dari hal ini seharusnya manusia belajar menggunakan waktu yang ada sebaik mungkin. Apakah waktu sekarang dimanfaatkan maksimal, apakah masa lalu sudah diambil hikmahnya, lalu apakah masa depan sudah dipersiapkan. Pertanyaan ini adalah hakekat waktu yang perlu dijawab pribadi masing-masing. Allah menegaskan dalam firmannya “Demi masa. Sesengguhnya manusia itu merugi.” (Q.S. Al Asr: 1-2). Jelas bahwa siapa pun yang menyia-nyiakan waktu adalah termasuk kategori orang-orang yang merugi, begitu juga yang menyiakan masa lalu dan tidak mengambil manfaat darinya.
Pasir waktu tak dapat kembali
Ia sirna dihembus angin
Hanya debu melekat disisi
Biarkan ia tetap abadi
(EA)

0 komentar:

Posting Komentar