Minggu, 22 April 2012

Sekolah Peradaban


                “Bagaimana kalau kita membuat Sekolah Peradaban?”
            Perkataan dari sahabatku Rafi masih terngiang di pikiranku selama seminggu ini. Idenya tentang membuat Sekolah Peradaban bersama untuk para anak jalanan sangat bagus. Malah sangat bagus! Namun, bagaimana cara mewujudkannya? Bukannya tidak mudah untuk masuk ke dalam dunia mereka, apalagi membuat sekolah? Belum lagi status kami ini yang masih mahasiswa.

            “Tenang saja, kawan. Mudah, kok, untuk bergaul dengan mereka.”
            Rafi memang tidak pernah berpikir panjang. Dia bilang itu mudah, namun pada kenyataannya? Aku sudah mencoba untuk bergaul dengan anak-anak jalanan yang kutemui ketika naik angkot, tapi kenapa pembicaraanku tidak pernah nyambung dengan mereka. Pasti selalu berujung dengan tangan mereka yang menadah ke atas meminta uang.
            “Ah…, itu hanya karena kamu masih kurang belajar saja, Siti.”
            Kurang belajar apalagi coba! Aku mahasiswa tingkat tiga jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Ilmu tentang kejiwaan manusia sudah sebagian aku pelajari dan ketahui. Kayaknya ada yang salah dengan para anak jalanan itu, Rafi!
            “Tidak ada yang salah pada mereka. Kamu tu yang belum mengenal mereka.”
            Pernyataannya yang terakhir itu tampaknya benar. Ya, aku memang baru mengetahui mereka dari luarnya saja. Hanya praduga pikiranku saja yang kupakai. Bergaul secara intens belum aku lakukan. Pantas saja belum begitu nyambung dengan mereka.
            Kelihatannya Rafi harus mengajarkanku langsung tentang bagaimana caranya menaklukkan mereka. Apakah yang selama ini dikatakannya benar atau hanya omdo alias omong doang. Ini juga demi Sekolah Peradaban yang kami usung bersama.

***

            Sekolah peradaban, sebuah konsepan tempat belajar sebagai wadah anak-anak, khususnya anak jalanan dan anak kurang mampu untuk berkumpul dan berkarya. Selain belajar tentang ilmu praktis, mereka juga akan belajar ilmu agama yang menjadi usungan utamanya. Kami, Perkumpulan Mahasiswa Muslim Penggerak Peradaban (PM2P2), sengaja membuat wadah ini sebagai pembuktian pergerakkan kami, yaitu menggerakkan peradaban mulai dari hal yang kecil.
            Ya, sebenarnya aku lebih suka kalau hal kecilnya dimulai dari diri sendiri dulu. Namun, Rafi, ketua umum kami orangnya sangat semangat dan selalu punya ide-ide unik tentang pergerakkan yang kami akan lakukan. Dia selalu mengatakan, dengan kita berusaha mengubah suatu peradaban yang bukan hanya dari diri kita sendiri, otomatis selama kita ada niat memperbaiki diri, pergerakan diri kita pasti akan menjadi lebih baik juga.
            Salah satu idenya, yang menurutku paling heboh selama ini, adalah mengenai Sekolah Peradaban. Dia sampai rela merogoh koceknya untuk menyewa rumah yang akan dipakai untuk itu. Tentunya dibantu dengan dana anggota PM2P2 juga, hanya saja, Rafi yang paling banyak menghabiskan uangnya, bahkan tabungannya.
            Rumah tersebut berhasil kami dapati dengan harga sewa yang lumayan miring. Saat ini rumah tersebut memang belum ada anak-anak jalan yang ikut dalam Sekolah Peradaban. Belum adanya instruksi dari Rafi untuk mencari anak-anak jalanan yang menjadi sasarannya adalah salah satu sebabnya. Maklum, dari 10 orang pengurus PM2P2, ternyata sama sepertiku. Kemampuan mereka untuk membujuk anak-anak jalanan hampir sama. Jadi masih butuh bimbingan Rafi sebagai pengusul utamanya. Nah, sekarang ini kami dipimpin Rafi bergerak bersama untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak jalanan.
            Lucu juga melihat aku dan teman-temanku yang di kampus mendapat gelar para ikhwan dan akhwat ini mencoba bergaul dengan anak-anak jalanan. Pakaiannya kami untuk yang lelaki pakai baju koko dan peci, sedangkan perempuannya pakai baju gamis dengan jilbab yang rata-rata menutupi sampai di bawah dada, tampak kontras dengan style anak-anak jalanan tersebut. Begitu pun aku, aku malah memakai jilbab yang menutupi sampai batas pinggangku.
            Anak-anak jalanan yang kami dekati banyak merasa heran dan memandang aneh apa yang kami lakukan. Bagaimana tidak? Ini ada pengajian apa? Kita diserang oleh monster berjilbab dan monster berjanggut! Kurang lebih seperti itu pemikiranku menduga pandangan mereka terhadap kami. Hampir semua teman-temanku yang mencoba bergaul berakhir dengan kaburnya anak-anak jalanan tersebut dari mereka. Hey, para monster berjilbab dan berjanggut, masa pada tidak bisa menaklukkan mereka, sih? Bisikku dalam hati sembari tersenyum.
            Tapi Rafi beda, monster berjanggut itu tampaknya berhasil merebut hati banyak anak-anak jalanan. Kesupelan dan selera humornya, serta ilmu sosialnya yang dia punyai sangat bagus. Anak-anak itu senang sekali dengan Rafi yang bisa nyambung dengan mereka. Mungkin ini yang Rafi katakan ‘mengenal mereka’ kemarin.
            Aku harus belajar banyak darinya.

***

            Alhamdulillah, di hari ketiga semenjak kami mulai turun mencari anak-anak jalanan, anak-anak yang mengikuti Sekolah Peradaban sudah mencapai 30 orang. Di Sekolah Peradaban ini mereka kami ajarkan tentang banyak hal. Dari belajar membaca untuk yang belum bisa membaca, sampai membuat kreasi dari barang-barang bekas kami ajarkan. Tak lupa pula ilmu agama, mulai dari tata cara solat dan sebagainya. Mereka semua antusias. Setidaknya itu sebelum hari ini, hari keempat.
            Hari keempat ini kami memang sengaja berhenti sementara untuk mencari anak-anak terlantar karena ingin memfokuskan diri mengajari mereka yang sudah ada. Namun, anehnya hari ini malah tidak ada satu anak pun yang datang. Ada apa ini?
            “Pada ke mana, ya, anak-anak?”
            Aku bertanya kepada Rafi yang juga bingung dengan keadaan ini.
            “Mungkin mereka harus kejar setoran, Ti.”
            Rafi tersenyum padaku. Namun, aku merasa ekspresinya hari ini tidak seperti biasanya. Seperti ada yang disembunyikan olehnya.
            “Rafi, ada sesuatu yang kamu sembunyikan ya?”
            “Nggak ada, kok.”
            “Jangan bohong, deh. Kamu yang biasanya ceria tidak mungkin diam seperti ini.”
            “Em…, be….”
            “Kak Rafi…, tolongin Icha!”
            Perkataan Rafi terhenti ketika mendengar suara Icha, salah satu anak jalanan usia sepuluh tahun yang mengikuti sekolah peradaban, berteriak memanggilnya. Suaranya seperti sedang ketakutan.
            “Ada apa, Icha?”
            “Itu, Kak…, teman-teman Icha yang mau ke sekolah kakak dilarang sama Bang Junet. Sekarang mereka akan dihukum sama Bang Junet. Tolongin mereka, Kak.”
            “Bang Junet itu…, ternyata benar dugaanku.”
            “Siapa Bang Junet, Fi?”
            “Pimpinan anak-anak jalanan di daerah ini. Aku mau menemui dia sekarang, kamu dan yang lain di sini saja ya, Siti.”
            “Eh…, enak saja! Ini, kan, pekerjaan kita bersama. Kami siap untuk membantumu, kok.”
            “Tapi, kan….”
            “Ga da tapi-tapian! Betul, kan, teman-teman?”
            “BETUL. Allahu akbar!”
            Kami semua bertakbir menyetujui tindakan kami utuk membantu Rafi.
            “Ya ud­ah kalo begitu. Terima kasih saudara-saudara seimanku.”
            Tampak mata Rafi berair. Air itu perlahan mengalir ke pipinya. Ukhuwah antara kami membuatnya yang biasanya tegar dan terkadang individual itu takluk.

***

            Kini kami sampai di markas Bang Junet, tepat di bawah kolong jalan layang yang tak berada jauh dari Sekolah Peradaban. Tempatnya berada dilingkungan yang kumuh dan banyak sampah. Bahkan pencerminannya terlihat dari markas Bang Junet yang terbuat dari kumpulan kardus yang tampaknya sudah lama tidak diganti.
            Rafi memimpin persiapan kami untuk masuk ke dalam markas tersebut. Ditarik nafasnya perlahan untuk menguatkan dirinya. Kami pun sama, kurasakan degupan jantung kami berpadu satu.
             “Rasanya tempat ini terlalu kecil apabila kita semua masuk. Tampaknya cukup aku dan Siti saja yang masuk.”
            Hah? Aku? Apa Rafi serius? Aku, kan, perempuan.
            “Kamu, kan, waktu SMA katanya pernah juara nasional karate, bukan?”
            Eh…, aku tidak pernah cerita padanya. Dari mana dia tahu? Memang, sih, mungkin sudah menjadi rahasia umum. Hanya aku satu-satunya akhwat yang paling berani dan terkadang nekat untuk menentang sesuatu. Kurang lebih ini karena efek kemampuanku tersebut. Wajar kalau Rafi sebagai pimpinan PM2P2 tahu mengenai sejarah aku yang kasar ini. Haha.
            “Yang lain tunggu di luar saja. Kalian harus siap-siap kalau terjadi apa-apa dengan kami di dalam.”
            Aku dan Rafi pun masuk ke dalam markas. Ternyata di dalamnya sudah menunggu seorang laki-laki dengan tubuh kekar dan berwajah sangar. Di belakangnya tampak anak-anak jalanan Sekolah Peradaban kami. Mereka tampak ketakutan.
            “Kau yang namanya Rafi itu, hah!?”
            “Iya, benar. Dan anda yang namanya Bang Junet, bukan?”
            Tegang. Aku merasa adegan seperti ini sering aku temui di film-film jepang yang sering kutonton, yaitu awal perkelahian antara sang pahlawan dengan para yakuza.
            “Berani-beraninya kau mengambil anak-anak jalananku sehingga mereka malas cari setoran, ya!”
            Waduh, kayaknya ini bakal jadi persoalan yang gawat, pikirku. Aku segera mempersiapkan posisi kuda-kudaku dan fokus menatap Bang Junet. Untung hari ini aku memakai pakaian muslim dengan rok terpisah, bukan gamis seperti biasanya, sehingga gerakanku bisa lumayan lebih leluasa. Kulihat Bang Junet kini mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dia bersiap melempar benda itu kepada Rafi.
            “Nih, makan loe!”
            Benda yang dilempar Bang Junet tersebut melayang dan sebentar lagi tepat mengenai kepala Rafi. Aku telat mengambil tindakan.
            “CEPLOK!”
            Hah? Bunyinya, kok, gitu? Sebelum aku sempat menoleh ke arah Rafi. Bang Junet tiba-tiba berteriak.
            “Anak-anak SERANG!!”
            Apalagi ini? Anak-anak jalanan di belakang Bang Junet berlari ke arah Rafi dengan membawa ember di tangan mereka. Aku harus bagaimana, nih? Tidak mungkin aku menghajar anak-anak yang selama ini aku ajari. Tapi ini adalah hal yang tidak bisa dibiarkan. Aku harus beraksi!
            Tiba-tiba sepasang tangan mendekapku dari belakang. Ah, tidak! Rafi takkan selamat kalau begini. Aku sekarang menoleh ke arah Rafi, dia tampak tidak bergeming dari posisinya. Anehnya lagi, bekas lemparan Bang Junet tadi, kok…, ternyata itu sebuah telur…!?

“SELAMAT MILAD KAK RAFI!”

            Anak-anak jalanan itu serempak menyirami Rafi dengan air hingga membasahi rumah kardus markas Bang Junet. Ternyata semua ini hanya drama! Drama untuk ulang tahunnya Rafi!
            “Heyhey… kenapa aku tidak diberitahukan sebelumnya!?” aku bertanya kepada orang yang mendekapku dari belakang, yang kini aku tahu mereka adalah salah satu temanku yang menunggu di luar tadi..
            “Kamu pulang duluan, sih, kemarin.”
            “Paling tidak sms saja, apa susahnya? Aku sudah siap untuk berkelahi, nih.”
            “Maaf, kami lupa. Hehe.”
            “Dasar!”
            Tapi tak apa-apa. Kejadian ini membuatku tak bisa marah kepada mereka begitu melihat Rafi yang menangis haru karena kejadian ini. Mungkin dia yang lebih pantas marah, ya?
            “Terima kasih semuanya. Tak kusangka akhirnya malah seperti ini. Aku kira ini semua serius.”
            Rafi berkata sambil menghapus air matanya. Kerjaan teman-temanku yang bekerjasama dengan anak-anak jalanan Sekolah Peradaban kami ini patut kuacungi jempol. Aku jadi teringat jadwal pelajaran yang akan kami ajari hari ini di Sekolah Peradaban adalah pelajaran drama. Tak disangka teman-temanku malah menjadikannya praktik langsung, bahkan melibatkan Bang Junet pimpinan anak-anak jalanan yang di luar dugaan sangat mengapresiasi kegiatan kami selama tidak mengganggu jadwal kejar setoran mereka.
            Ternyata Sekolah Peradaban, karya rintisan kami ini, telah berhasil masuk ke dunia anak-anak jalanan. Ide Rafi sukses dan sekarang membuatnya benar-benar bahagia. Selamat ya, Rafi. Selamat juga untuk Sekolah Peradaban yang kita rintis bersama ini.

------------------------------------
cerpen yang gagal lolos lomba... posting saja... hehehe

0 komentar:

Posting Komentar