Jumat, 09 Maret 2012

Buku VS Qur'an


             Buku versus Qur’an? Apa maksudnya? Penasaran, kan? Cekidot yang di bawah ini dulu deh.
***
             Lu udah baca semua buku Harry Potter belom? ”
           Ah…, gua cuma nonton filmnya aja. Kalo baca mendingan gua baca buku si Pocong. Lu tahu, kan, tuh buku? Kocak dan gua banget tuh.”
            Huh, lu mah…, gua juga suka buku Harry Potter karena tokoh utamanya gua banget. Coba lu pikir, pasti enak kayaknya kalo kita bisa sihir. Bener kagak?”
***
            Kira-kira sudah tahu belum mengapa judul tulisan ini Buku VS Qur’an? Yah, tepat sekali! Zaman sekarang ini, buku seolah mengalahkan Al Qur’an baik dalam sering dibacanya, jadi referensi dalam berbagai hal, bahkan untuk pedoman hidup saja Al Qur’an sering terlupakan. Buku-buku seperti Harry Potter, Twilight, Pocong, dan berbagai buku lainnya malah menjadi acuan dan teladan bagi orang-orang, khususnya anak muda. Bahkan, buku yang murni mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan pemahaman Islam seperti buku-buku komunis, Mein Kampf karya Adolf Hitler misalnya, juga sudah tak jarang menjadi konsumsi mereka. Padahal jelas buku-buku tersebut bisa membimbing ke arah yang kurang baik apabila seseorang tidak memiliki saringan diri yang kuat.
            Saringan diri kita sebagai umat muslim adalah ajaran yang diajarkan dalam pedoman hidup kita, yaitu Al Qur’annul Kariim. Sebuah kitab (buku) yang mulia, berisikan pelajaran-pelajaran hidup yang universal, tak lekang oleh zaman, bahkan selalu benar walau sering dipertentangkan. Buku yang bagi orang-orang yang cinta kepadanya tidak pernah bosan diulang berkali-kali membacanya bahkan dihafalkan sedetil-detilnya.
            Pertanyaannya, apakah Al Qur’an tersebut untuk kita sudah menjadi suatu yang lebih kita gemari atau kita cintai dibandingkan buku-buku yang sering menjadi konsumsi orang-orang pada umumnya? Apakah ia sudah menjadi bacaan yang menjadi pedoman hidup kita? Apa Al Qur’an tersebut hanya dibuka dan dibaca diwaktu-waktu sisa, atau bahkan dibiarkan berdebu di sudut kamar? Padahal untuk buku-buku yang lain kita rela-relain menyampulnya agar kelihatan bersih dan rapi, serta tidak mudah rusak ketika sering dibaca. Sekarang simak dulu, nih, keutamaan-keutamaan Al Qur’an.
            “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Nahl [16]: 89)
            Ayat tersebut menjelaskan keutamaan Al Qur’an yang melingkupi segala sesuatu, bahwa ia menjadi petunjuk bagi orang beriman dan akan menguatkan dirinya. Nah, apa yang perlu kita ragukan pada Al Qur’an lagi kalau jelas ada pernyataan langsung dari Allah Swt seperti itu? Bahkan, bagi orang-orang yang tidak beriman, yang tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedomannya diumpamakan sebagai sesuatu yang lemah.
            “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (H.R. Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan shahih)
            Al Qur’an juga meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan merendahkan derajat orang-orang yang meninggalkannya.
            “Sesunggunya Allah Swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
            Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaan kita berinteraksi dengan Al Qur’an. Kalau dibandingkan dengan interaksi kita dengan bacaan-bacaan lain apakah bacaan-bacaan tersebut bisa dibandingkan dengan Al Qur’an? Ya pasti tidaklah, yaw. Wong sebaik-baik manusia adalah orang yang berinteraksi dengan Al Qur’an.
            “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”.(H.R. Bukhari)
            Adakah yang mendengar “sebaik-baiknya kalian adalah yang membaca buku komik, novel dan sebagainya”? Tentu tidak bukan. Hehe.

***
            “Hmm… sihir, ya? Kayaknya menarik juga ya, kalau kita bisa. Tapi sayangnya itu termasuk syirik, kan?”
            Yoi men, Pocong lu juga mistis, kan?”
            “Hei, kalian kenapa ngobrol aja!? Sekarang pelajaran Ulumul Qur’an bukan pelajaran pocong-pocongan!”
            “Baik, Pak Ustad!”

1 komentar:

banyak membaca buku juga bagus, namun hal itu jangan sampai dijadikan sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan, tetapi cukup sebagai ilmu tambahan saja untuk kita.
Al Quran is the best book in the world.. ^_^

Posting Komentar