10:06 PM -
Bincang-bincang
No comments


Antara "Bersatu" dan "Bersama"
Saya
sangat berharap umat muslim bisa bersatu. Hanya saja,
kata "bersatu" tampaknya bukanlah kata yang tepat untuk dipaksakan
pada saat ini. Saya tetap memilih kata "bersama". Mengapa? Karena
saya sangat ingin melihat indahnya kebersamaan umat Islam dahulu, bukan
kebersatuan yang dipaksakan.
Dalam
KBBI, kata bersatu bisa berarti (1) berkumpul atau bergabung menjadi
satu; menjadi satu: bangsa-bangsa Asia Tenggara - dl ASEAN; (2) sepakat; seia
sekata: - kita teguh bercerai kita runtuh. Sementara itu kata bersama
dapat berarti (1) berbareng; serentak: kami berangkat - ke sekolah; (2) semua;
sekalian: kewajiban itu telah dibebankan kpd kita -; (3) seiring dng: - surat
ini, kami sampaikan seberkas laporan tahunan perusahaan.
Menurut
saya, kedua kata ini kurang tepat apabila disamakan konsepnya. "Satu"
yang merupakan kata dasar dari "bersatu" umumnya berarti "tidak
ada yang lain selain itu". Contohnya, Allah hanya "satu" dan tak
ada Tuhan lain selain-Nya. "Satu" juga dapat diartikan sebagai suatu
kepaduan yang cenderung berujung kepada penggabungan.
Sayangnya,
dalam konteks ukhuwah yang terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang
berbeda-beda, kata "satu" umumnya lebih mewakili akidah saja. Dalam
pemahaman -terutama hal-hal yang sifatnya furu, kita sulit untuk
memaksanya agar "satu" sehingga kata "bersama" dan
"seirama" menjadi kata yang tepat untuk ukhuwah.
Dengan
"bersama", tentu tidaklah menghalangi kita bisa bergerak dengan satu
tujuan. Namun, jika kita memakai konsep "bersatu", apakah hal itu
bisa dipaksakan di dalam masyarakat yang kian heterogen ini?
Saya
pribadi yakin suatu saat nanti pasti bisa. Dengan catatan, marilah kita
"bersama" dahulu untuk saling memahami. Kemudian, baru kita bisa
"bersatu" ketika sudah saling mengerti.
"Bersatu"
dengan cara memaksakan kehendak salah satu golongan karena mengganggap bahwa
pemahamannyalah yang paling benar bukanlah suatu yang tepat. Dalih "Seandainya
semua orang bisa sama dengan pemahaman yang kami yakini benar ini"
malah akan menjadi penyebab perpecahan. Hal inilah yang sering membuat umat
Islam, jangankan "bersatu", "bersama" pun tak mampu.
Selama
akidah masih satu, seharusnya ukhuwah tak perlu dipaksakan untuk satu
pemahaman. Begitu menurut saya.
"Pelangi itu indah
bukan karena warnanya bersatu, tapi karena warnanya bersama. Begitu pula
ukhuwah, ia tak harus satu, tapi cukup bersama dan seirama."
(Yansa El-Qarni)
0 comments:
Post a Comment