3:27 PM -
Bincang-bincang
4 comments


Membaca dan Menulis: Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
![]() |
Ilustrasi: pixabay.com |
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
﴿٥﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan,” (1) “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah.” (2) “Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah,” (3) “Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena),” (4) “Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.” (5)
(QS. Al-Alaq: 1—5)
Ilmu
pengetahuan dan teknologi tentunya tidak akan ada tanpa proses penalaran dan
penelitian. Penalaran dan penelitian pun tentunya tidak akan berjalan tanpa
melakukan proses membaca dan menulis sebelumnya. Di ayat 1—5 Surat Al-Alaq ini,
Allah menyampaikan landasan penting untuk manusia dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Saking
pentingnya, Allah menurunkan ayat ini sebagai wahyu pertama yang diberikan
kepada Rasulullah Saw. Iqra, “Bacalah!”, penegasan yang
sampai diulangi malaikat Jibril hingga tiga kali ini merupakan salah satu
penandanya. Uniknya, pada zaman itu tidak banyak orang yang menguasai kemampuan
baca-tulis, termasuk Rasulullah. Kini, perintah “membaca” yang dahulu terkesan
aneh tersebut semakin terbukti kebenarannya. Di zaman modern ini, hampir tidak
ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakan tanpa referensi tertulis
yang dibaca sebelumnya.
Memang,
dalam beberapa konteks, “Bacalah!” tersebut tidak hanya berarti membaca
tulisan, tetapi juga membaca alam. Kata khalaq atau “menciptakan” yang
disebutkan selanjutnya, menandakan Allah ingin agar manusia membaca juga dari
apa-apa yang Dia ciptakan di alam semesta ini. Manusia, hewan, tumbuhan, bumi,
planet-planet, dan semua ciptaannya diperintahkan untuk “dibaca” atau dinalari
dan diteliti. Pembuktian tentang hal ini dapat dilihat dari banyak ayat-ayat
Alquran dalam surat lainnya yang menginsyaratkan hal tersebut, seperti
pemakaian kata ulul albab
“orang-orang yang berakal (berpikir)” dalam Surat Ali-Imran ayat 7.
Orang-orang
yang berpikir tersebut haruslah berpijakan kepada insyarat-insyarat lain yang
tercantum dalam Alquran terlebih dahulu dalam melakukan “pembacaan” terhadap
apa yang telah diciptakan Allah Swt. Diantara contohnya juga disampaikan dalam
ayat kedua Surat Al-Alaq tadi, “Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.”. Ilmu pengetahuan sekarang
membuktikan bahwa darah dalam tubuh manusia dapat digunakan untuk “membaca”
karakter dan kesehatan manusia. Selain itu, masih banyak insyarat lainnya
seperti dalam Surat Al-Hajj ayat 5 yang membicarakan soal proses penciptaan
manusia, Surat Al-Hijr ayat 15 yang memaparkan komponen antariksa, dan
sebagainya.
Setelah
melakukan proses “membaca” tersebut, Allah Swt memerintahkan manusia untuk
“menulis”. Ini diungkapkannya dalam ayat ketiga yang berbunyi “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam
(pena),”. Kata qalam dalam ayat
tersebut banyak ditafsirkan sebagai lauhul
mahfudz, yaitu kitab yang di dalamnya
telah tertulis semua hal yang ada di alam semesta ini. Begitupun manusia,
tentunya harus memiliki catatan untuk menyimpan apa-apa yang telah “dibacanya”,
baik itu dalam bentuk tulisan di buku, data dalam komputer, atau lainnya.
Maka,
pantaslah “membaca” dan “menulis” diperintahkan Allah untuk menjadi hal yang
harus dilakukan manusia ketika hendak mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena pada hakikatnya, Allah-lah yang mengajarkan semua itu kepada manusia
seperti yang sampaikan-Nya dipenghujung ayat terakhir wahyu pertama yang
diturunkan. “Dia mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.”
Wallahu a’lam bish shawab.
Yansha el-Qarni
*Penulis adalah
mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2010
Anggota UKM Kepenulisan
Islami Al-Qolam Universitas Pendidikan Indonesia
(UKM Al-Qolam UPI)
*Tulisan ini memeroleh juara I di Lomba Esai FPTK Islamic Fair UPI
4 comments:
Sama-sama, Mas.. :)
Cara menutup pikiran dan hati gimana ...
Cara menutup pikiran dan hati gimana ...
Pingin rassnya di tutup telepati saya atau hati saya
Post a Comment