 |
Gambar diunduh dari purisukareviews.wordpress.com |
Akhirnya aku memilih untuk membuang sementara
kepenatan untuk menulis hal-hal yang menjadi tanggung jawabku. Memilih
menggantinya dengan sesuatu yang me-refresh-kan
pikiranku. Dengan apa? Ternyata aku
memilih dengan menonton drama Jepang. Hahaha. :D
Drama yang kutonton kali ini berjudul Satorare / Transparent (2012). Drama ini
menceritakan tentang Dr. Kenichi Satomi yang mengidap satorare, sindrom langka yang membuat pikirannya dapat didengar
oleh orang-orang sekitarnya sampai jarak 12 meter –namun untuk beberapa kondisi
dapat didengar melebihi jarak tersebut tergantung suasana hati pengidapnya.
Sindrom ini konon dialami oleh satu dari sepuluh juta orang di dunia –yang
biasanya merupakan orang yang super jenius, sehingga ia dilindungi oleh
pemerintah. Pemerintah membuat kebijakan agar orang-orang bersikap natural
ketika bertemu dengannya supaya pengidap satorare merasa tidak dikucilkan dari
kehidupan sosial.
Banyak hikmah yang kudapati setelah menontonnya.
Namun, yang paling menarik bagiku adalah ketika membayangkan kehidupan apabila
pikiran kita dapat terdengar oleh orang lain. Oh, betapa memalukannya! Begitu banyak aib kita yang akan diketahui
orang lain. Tentunya orang-orang sekitar kita akan menjauhi kita apabila mengetahui
apa yang ada dalam pikiran kita, mulai dari kadang terbesit rasa benci, meledek
orang, hingga pikiran-pikiran negatif lainnya. Memang, di sisi lain kita akan
disenangi apabila kita mempunyai pikiran yang bersih. Namun, apakah ada orang
yang pikirannya selalu bersih tanpa terbesit noda sedikitpun? Aku rasa tidak
ada, pasti orang tersebut minimal pernah berpikir di luar apa yang dianggap ‘bersih’
tersebut –kecuali mungkin orang-orang yang menjadi pilihan-Nya. Apabila ini
terjadi pada kita, pastilah kita akan berusaha untuk menjaga apa-apa yang ada
dalam pikiran ketika berhadapan orang lain –walau tentunya sangat sulit dan
hampir mustahil.
Ya, mungkin hal ini takkan pernah terjadi di dunia
nyata ini. Tapi sadarkah kita bahwasanya sebenarnya ada pihak yang selalu
mengetahui apa yang kita pikirkan? Pihak itu adalah Allah Swt dan para malaikat
yang mencatat amal perbuatan kita. Jangankan berusaha menjaga, kita bahkan
tidak pernah malu apa yang kita pikirkan diketahui pihak tersebut. Perbandingan
ini akan terbalik ketika yang mengetahui pikiran kita tersebut adalah manusia.
Untungnya, Allah Swt dan para malaikat yang diperintahnya tersebut tidak
langsung menghukum atau menjauhi kita ketika dalam pikiran terbesit hal-hal
yang buruk.
Nah, berbicara soal apa yang terbesit dalam pikiran, Islam
mengenalkan kita dengan istilah niat. Dalam suatu hadis, Rasulullah pernah
bersabda,
“Ibnu Abbas r.a.
berkata: Nabi Saw dari apa yang diriwayatkan dari Allah azza wa jalla,
bersabda: Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian
menjelaskan keduanya, maka siapa yang niat akan berbuat kebaikan (kebaikan)
lalu tidak dikerjakannya dicatat untuknya satu kebaikan, dan bila dikerjakannya
dicatat oleh Allah sepuluh kebaikan, dapat bertambah hingga tujuh ratus kali,
dan dapat berlipat lebih dari itu.
Sebaliknya, jika niat akan berbuat keburukan (dosa) lalu tidak
dikerjakan, dicatat untuknya satu kebaikan yang cukup (sempurna), dan bila niat
lalu dilaksanakan maka dicatat satu dosa.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis tersebut, kita mengetahui kalau apa yang
kita niatkan dalam pikiran kita apabila baik akan dicatat berkali-kali lipat
sedangkan kalau berniat buruk belum dicatat sebelum dikerjakan, bahkan apabila
dibatalkan dicatat sebagai satu kebaikan.
Namun, bukan berarti setelah tahu hadis ini kita
malah berpikiran, “Ah, ternyata tidak
apa-apa berpikiran buruk, deh. Wong tidak dicatat, malah kalau dibatalkan
menjadi kebaikan”. Ini malah bahaya, Sob!
Bisa saja nanti ketika kita terbesit niat yang buruk, para gerombolan setan
yang kita tak mampu melihatnya akan berbisik menggoda hingga akhirnya kita
melakukan perbuatan buruk tersebut. Memang perbuatan buruknya dicatat satu,
tapi kalau satunya besar hingga mengalahkan kebaikan kecil yang kita lakukan
walau sudah dilipatgandakan bagaimana, tuh?
Kan, hanya Allah Swt yang tahu bobot
amalan kita. Betul tidak? *sembari meniru nada suara Aa Gym
Kesimpulannya, kita harus tetap berhati-hati dan
menjaga pikiran kita dari hal-hal yang buruk. Setidaknya itulah hikmah yang
paling berharga dari drama Satorare /
Transparent (2012) yang kutonton di sela kepenatanku. Semoga bermanfaat. :D